Pengaruhi Lifting Minyak Blok Rokan, KESDM Minta Perbaikan Pipa TGI yang Meledak Harus Dikebut

Iwan Medium.jpeg

Kamis, 8 Januari 2026 – 13:12 WIB

Api membumbung tinggi hingga 15 meter saat kejadian ledakan dan kebakaran akibat kebocoran pipa gas PT TGI di Inderagiri Hilir, Riau. (Foto: ANTARA/HO-Polres Inhil).

Api membumbung tinggi hingga 15 meter saat kejadian ledakan dan kebakaran akibat kebocoran pipa gas PT TGI di Inderagiri Hilir, Riau. (Foto: ANTARA/HO-Polres Inhil).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman mendesak pemulihan kebakaran pipa gas milik PT Trans Gas Indo (TGI), dikebut.

Karena, berdampak langsung kepada operasi Blok Rokan, tulang punggung produksi minyak Indonesia. Meski belum merilis angka kerugian, Laode memastikan, dampaknya cukup signifikan.

Saat ini, Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) ESDM tengah melakukan kalkulasi mendalam untuk menghitung jumlah pasti kekurangan produksi minyak akibat insiden tersebut.

“Angkanya nanti diumumkan di Pusdatin. Ya, untuk awal tahun itu perlu kita pulihkan. Karena nanti berdampak pada proyeksi akhir tahun (lifting) kita yang 610.000 (barel per hari). Jadi kita harus buru-buru agar pipa ini segera bisa tersambung,” ujar Laode, Jakarta, dikutip Kamis (8/1/2026).

Laode menjelaskan, efek domino dari insiden yang terjadi pada Jumat sore (2/1) di jalur pipa Grissik Duri (GD) KP222, Desa Batu Ampar, Indragiri Hilir, Riau tersebut.

Di mana, pipa TGI memiliki peran vital sebagai penyuplai gas untuk pembangkit listrik di wilayah kerja Rokan. Listrik inilah yang menjadi ‘nyawa’ bagi ribuan mesin pompa angguk yang menyedot minyak dari perut bumi.

Kekhawatiran tersebut mauk nalar. Karena, Blok Rokan bukan sekadar ladang minyak biasa, melainkan kontributor utama produksi minyak nasional. Produksi Rata-rata: Sekitar 150.000 barel per hari. Menyumbang lebih dari 20 persen dari total produksi minyak Indonesia yang sekitar 600 ribuan barel per hari.

Jika pemulihan pipa TGI lambat, kata dia, potensi kehilangan produksi harian akan semakin besar, yang pada akhirnya akan mempersulit Indonesia mengejar target lifting nasional sebesar 610.000 barel per hari.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman sudah mengingatkan dampak ledakan pipa gas PT TGI di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau pada Jumat (2/1/2026), bakal berdampak kepada lifting minyak nasional.

Saat ini, produksi minyak Wilayah Kerja (WK) Migas Blok Rokan sudah anjlok sekitar 120.000 barel per hari dari seharusnya 165.000 barel per hari. Dengan kata lain, anjloknya produksi di Blok Rokan mencapai 75 persen.

“Menurut informasi yang kami peroleh, produksi minyak Blok Rokan hari ini hanya tinggal 30.000 barel perhari. Hal ini lantaran suplai gas dari Jambi Merang untuk pembangkit listrik tenaga gas turbine cogeneration (PLTGU) MCTN di Blok Rokan terhenti akibat meledaknya pipa tersebut, sudah dapat dipastikan telah mengganggu fasilitas produksi minyak Blok Rokan,” ungkap Yusri, Senin (5/1/2026).

Menurut Yusri, fungsi vital PLTGU North Duri yang dioperasikan anak usaha PLN sebagai penyuplai 70 persen listrik di Blok Rokan dan uap untuk produksi, mengalami blackout.

Tak hanya itu, lanjut Yusri, terdapat potensi risiko terjadinya pembekuan (congeal) bagi minyak berat, jika hal itu dibiarkan berlangsung lama.

Corporate Secretary TGI, Emil Ismail menegaskan, keselamatan menjadi harga mati dalam proses pemulihan ini. Di mana, prioritas utama perusahaan adalah memastikan pengamanan lokasi dan keselamatan masyarakat serta melakukan pemulihan operasional secepatnya. “Seluruh tahapan penanganan dilakukan mengikuti standar HSSE oleh personel yang kompeten,” tegas Emil.