Seruan tajam datang dari seorang tokoh agama Palestina di tengah memanasnya situasi konflik di Timur Tengah.
Pendeta Palestina, Munther Isaac, mengingatkan dunia agar tidak terjebak pada kemarahan simbolik, melainkan mengarahkan perhatian pada penderitaan nyata warga sipil di Gaza dan Lebanon.
Menurutnya, gelombang kecaman global yang muncul akibat perusakan patung Yesus oleh seorang tentara penjajah Zionis Israel tidak boleh mengaburkan tragedi kemanusiaan yang jauh lebih besar dan sistematis.
Pendeta yang melayani di Gereja Lutheran Injili Christmas di Ramallah itu menegaskan kemarahan publik seharusnya diarahkan pada tindakan yang lebih substansial, yakni serangan terhadap warga sipil dan penghancuran martabat manusia.
“Yang seharusnya memicu kemarahan adalah penargetan warga sipil, serangan terhadap martabat manusia, serta kehancuran di Gaza dan Lebanon. Perang adalah kejahatan. Kita membutuhkan akuntabilitas,” tulisnya dilaporkan Anadolu Agency dikutip inilah.com, Jumat (1/5/2026).
Pernyataan itu muncul setelah beredarnya rekaman video yang menunjukkan seorang tentara Zionis Israel menghancurkan patung Yesus di kota Dibel, Lebanon selatan.
Aksi tersebut memicu kecaman luas, baik dari tokoh agama maupun pemimpin politik di berbagai negara.
Para pemimpin Gereja Katolik di Yerusalem pada Senin pekan ini turut mengecam tindakan tersebut.
Dalam pernyataan resmi, mereka menyebut perusakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap nilai-nilai keagamaan Kristen dan mendesak adanya pertanggungjawaban.
Namun, respons otoritas Zionis Israel menuai sorotan. Penyiar publik Israel melaporkan tentara yang terlibat tidak akan menghadapi penyelidikan pidana, melainkan hanya dikenai sanksi disipliner.
Sikap tersebut memicu pertanyaan lebih luas tentang standar akuntabilitas dalam konflik yang telah berlangsung lama.
Militer Zionis Israel sendiri menyatakan, mereka memandang insiden tersebut dengan sangat serius dan menilai tindakan prajurit itu bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung institusi militer.
Di sisi lain, eskalasi konflik di Lebanon terus menelan korban besar. Sejak ofensif militer Zionis Israel pada 2 Maret, lebih dari 2.294 orang dilaporkan tewas, 7.544 lainnya terluka, serta lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi berdasarkan data resmi.
Upaya meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama 10 hari yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan mulai berlaku pada Kamis malam.
Namun, pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut dilaporkan masih terus terjadi di lapangan.
Seruan Pendeta Munther Isaac menjadi pengingat penting bahwa di balik simbol yang rusak, terdapat krisis kemanusiaan yang jauh lebih mendesak.
Dunia, menurutnya, tidak boleh kehilangan fokus terhadap penderitaan nyata yang dialami jutaan warga sipil di kawasan konflik.









