Obat Mahal Gara-gara Dolar AS, FKBI: Keuangan BPJS Kesehatan Terancam Boncos

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 7 Juni 2026 – 13:38 WIB

BPJS Kesehatan (Antara).

BPJS Kesehatan (Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi mengatakan, ambruknya nilai tukar rupiah hingga senilai Rp18.036 per dolar AS, berdampak kepada harga produk impor di Indonesia. Salah satu yang krusial adalah obat-obatan dan vitamin.

“Sebuah keniscayaan jika harga produk farmasi, khususnya obat dan vitamin melambung, terdampak kurs rupiah. Musababnya, 85-90 persen bahan baku obat di Indonesia adalah impor,” tandas Tulus di Jakarta, Minggu (7/6/2026).

Melambungnya harga obat, vitamin dan produk farmasi lainnya, menurut Tulus, membawa efek bola salju yang cukup rumit. Pertama, mengganggu keterjangkauan masyarakat dalam mengonsumsi obat.  

“Di sisi lain, rasio konsumsi obat di Indonesia, tergolong rendah di tingkat global. Kalau harga obat mahal karena ambruknya rupiah, otomatis, rasio konsumsi obat Indonesia turun ke titik rendah sekali,” ungkapnya.

Kedua, lanjut Tulus, keuangan BPJS Kesehatan bakal semakin boncos, dan klimaksnya mengalami defisit. Pihak faskes (FKTL dan FKTP) akan mengajukan klaim yang lebih besar kepada BPJS Kesehatan.

“Semua gara-gara melambungnya harga obat yang terdampak ambruknya rupiah. Cash flow BPJS Kesehatan juga akan terganggu,” terangnya

Padahal, kata dia, anggaran BPJS Kesehatan pada saat ini, hanya tersisa untuk mengover kurang dari 1,5 bulan bayar, alias sudah di bawah standar.

“Intinya BPJS Kesehatan sudah defisit. Atau, bisa jadi pelayanan faskes akan menurun, karena alokasi anggarannya diprioritaskan untuk mengover kenaikan harga obat,” tandasnya.

Ketiga, menurut Tulus, ancaman terhadap kesehatan publik. Memang sudah ada akses BPJS Kesehatan, yang mampu mengover lebih dari 98 persen penduduk Indonesia. Namun, faktanya tidak semua peserta BPJS Kesehatan menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. “Buktinya, masyarakat mengeluarkan banyak uang (out of pocket) untuk berobat, angkanya mencapai Rp180 triliun per tahun,” tandasnya.

Keempat, industri farmasi kelas menengah bawah, terancam gulung tikar. Dominannya karena bahan baku impor dan melambungnya nilai dolar AS yang dipergunakan untuk belanja bahan baku.

“Kelima, harga obat di Indonesia bisa menjadi termahal di dunia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi saja bilang, harga obat di Indonesia termahal di dunia, antara 2-6 kali lipat. Ini sangat anomali. Artinya banyak masalah, baik di hulu maupun hilir,” terangnya.

Lalu apa solusinya? Tulus mengusulkan pemerintah menyusun mitigasi terkait melambungnya harga obat. Misalnya, pangkas ketergantungan terhadap bahan baku impor. “Bisa jadi ada mafia obat yang terus memburu rente (keuntungan) dari impor bahan baku obat,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang