Menolak Mundur, Presiden Kuba Diaz-Canel: Kepemimpinan Havana tak Ditentukan Gedung Putih!

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengirimkan pesan balasan yang menohok bagi Washington. Di tengah kepungan krisis ekonomi dan gertakan militer dari Amerika Serikat (AS), Diaz-Canel menegaskan tidak akan mundur sejengkal pun dari tampuk kekuasaannya. Ia menegaskan bahwa kedaulatan Kuba adalah harga mati yang tidak bisa didikte oleh negara mana pun.

Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News yang disiarkan Kamis (9/4/2026), Diaz-Canel menolak mentah-mentah seruan pengunduran diri yang dialamatkan kepadanya. Baginya, kepemimpinan di Havana adalah mandat dari rakyat Kuba, bukan hasil seleksi Pemerintah Amerika Serikat.

“Di Kuba, mereka yang menduduki posisi kepemimpinan tidak dipilih oleh Pemerintah Amerika Serikat,” tegas Diaz-Canel. Ia menambahkan dengan nada bicara yang mantap bahwa kata mundur “bukan bagian dari kosakata kami.”

Tudingan ‘Negara Gagal’ dan Ancaman Trump

Ketegangan ini memuncak seiring kembalinya retorika keras dari Gedung Putih di bawah komando Presiden Donald Trump. Sejumlah pejabat tinggi di Washington mulai terang-terangan menyerukan perombakan total sistem politik dan ekonomi di negara komunis tersebut.

Seorang pejabat Gedung Putih bahkan melabeli Kuba sebagai “negara gagal,” meski secara diplomatis menyatakan bahwa kesepakatan masih mungkin dicapai. Nada lebih pedas datang dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang mengklaim satu-satunya cara bagi warga Kuba untuk sukses adalah dengan meninggalkan negara mereka sendiri.

Namun, yang paling menggetarkan kawasan adalah pernyataan Donald Trump pada 29 Maret lalu. Trump secara eksplisit menyebut Kuba sebagai ‘target berikutnya’ setelah operasi militer AS terhadap Iran, seraya meramalkan bahwa pemerintahan Havana akan segera runtuh.

Bertahan di Tengah Kelumpuhan Ekonomi

Kuba saat ini memang sedang berada di titik nadir ekonomi. Kelangkaan bahan bakar yang akut, pemadaman listrik massal yang bergilir, hingga krisis pangan dan obat-obatan mencekik kehidupan warga. Havana menuding blokade ekonomi AS yang telah berlangsung selama puluhan tahun sebagai biang keladi utama.

Kondisi ini diperparah dengan seretnya pasokan minyak dari sekutu utama mereka, Venezuela, serta gangguan rantai pasok global. Menanggapi kritik Marco Rubio soal tata kelola ekonomi, Diaz-Canel balik mempertanyakan apakah tuntutan serupa akan diarahkan kepada para pemimpin di Washington yang juga kerap menghadapi persoalan internal.

Meski genderang perang mulai ditabuh, secercah diplomasi masih coba diupayakan. Wakil Menteri Luar Negeri Kuba mengakui adanya kontak terbatas dengan pihak AS. Namun, pembahasan untuk mendinginkan tensi panas ini disebut masih berada pada tahap yang sangat awal dan sangat rapuh.

Dunia kini menanti, apakah Havana mampu bertahan di bawah tekanan luar biasa Paman Sam, ataukah ramalan Trump tentang keruntuhan Kuba akan menjadi kenyataan di tengah badai krisis yang tak kunjung reda.