Masih Dibayangi Tekanan Global, Rupiah ‘Sejengkal Lagi’ Tembus Rp18.000/US$

Clara Medium.jpeg

Kamis, 25 Juni 2026 – 02:09 WIB

Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (Foto: AntaraAkbar Nugroho Gumay

Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (Foto: AntaraAkbar Nugroho Gumay

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$), diperkirakan anjlok ke level psikologis Rp18.000/US$ di perdagangan Kamis (25/6/2026).

Pada perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah ditutup melemah 93 poin ke level Rp17.952 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.859 per dolar AS Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat terdepresiasi hingga 105 poin.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan berikutnya dengan peluang menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.950 hingga Rp18.020 per dolar AS,” ujar Ibrahim, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menurut Ibrahim, dari sisi global, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Meski Washington telah memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Teheran sehingga Iran dapat kembali menjual minyak, sejumlah isu krusial masih belum menemukan titik temu.

“Ketidakpastian tetap ada mengenai isu-isu kunci, termasuk inspeksi nuklir dan akses ke dana Iran yang dibekukan,” kata dia.

Selain faktor geopolitik, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed juga menjadi pendorong utama penguatan dolar AS.

“Para pedagang sekarang melihat probabilitas yang jauh lebih tinggi untuk pengetatan kebijakan The Fed. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sekitar 70 persen pada September dan sepenuhnya memperkirakan kenaikan lainnya pada Desember,” ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai sentimen positif datang dari keputusan MSCI yang menunda penilaian aksesibilitas pasar Indonesia hingga November.

“Proses peninjauan terhadap status pasar Indonesia masih berlangsung dan akan menjadi salah satu perhatian utama para pelaku pasar dalam beberapa bulan ke depan. Hasil evaluasi tersebut dipandang penting karena dapat memberikan gambaran mengenai persepsi investor internasional terhadap kualitas, keterbukaan, dan efisiensi pasar modal domestik,” jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun pada semester II 2026 untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Paket kebijakan yang disiapkan mencakup insentif perpajakan, dukungan bagi sektor transportasi, penguatan industri, hingga perluasan bantuan sosial agar konsumsi masyarakat dan aktivitas usaha tetap terjaga,” ucapnya.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang