Petugas mengoperasikan mesin robotic dalam ajang pameran Manufacturing Indonesia 2023 digelar di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (6/12/2023). (Foto: Inilah.com/Didik Setiawan).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Terkait aktivitas industri manufaktur ada harapan baru, karena memasuki fase ekspansi pada Juli 2026. Bulan sebelumnya memprihatinkan.
Ada pergerakan nan mengilap itu, tersaji dalam laporan S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia yang tumbuh ke level 50,2 per Juli 2026. Bulan sebelumnya bertengger di level 46,9.
Asal tahu saja, jika PMI manufaktur berada di bawah angka 50 pertanda industri manufaktur sedang tidak baik-baik saja. Mengalami kontraksi besar yang membuat investor menunda atau bahkan membatalkan rencana ekspansi.
Namun, membaiknya angka PMI manufaktur Indonesia ke level 50,2 itu, masih memiliki risiko. Lantaran kondisi perekonomian pada saat ini, masih dalam tekanan. Di mana, harga bahan baku masih mahal, permintaan masih lemah. Hal itu membuat pelaku usaha bertindak ekstra hati-hati.
“Data survei Juli 2026, mengindikasikan adanya kenaikan di volume produksi untuk sektor manufaktur di Indonesia. Karena semakin stabilnya penerimaan pesanan baru,” terang Ekonom dari S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dikutip Senin (3/8/2026).
Pada saat yang sama, kata dia, volume pesanan baru berada di zona stabil setelah pada Juni 2026, mengalami tekanan yang cukup hebat. Sejumlah perusahaan melaporkan terjadinya kenaikan penjualan, seiring menguatnya kepercayaan konsumen serta dimulainya berbagai proyek baru.
Di sisi lain, kata Bhatti, masih ada tantangan yang perlu dipikirkan dengan cermat. Terkait, persaingan bisnis yang semakin ketat, serta kenaikan harga jual karena masih tingginya biaya produksi akibat harga bahan baku.
“Perusahaan melihat sinyal bahwa kepercayaan klien mulai menguat, meskipun ekspansi yang lebih kuat agak tertahan oleh dampak kenaikan harga yang masih berlanjut,” sebut Bhatti.
Di sisi lain, perekonomian global berdampak kepada masih rendahnya permintaan ekspor. Memperpanjang tren kontraksi menjadi lima bulan berturut-turut. Hal ini meningkatkan tekanan terhadap kapasitas produksi, tercermin dari kenaikan tunggakan pekerjaan alias backlog yang tertinggi sejak November 2025.
Namun begitu, Bhatti menyebut, sejumlah perusahaan di Indonesia, kembali merekrut tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir. Meski jumlah penambahannya masih terbatas. “Yang positif dari data terlihat adanya peningkatan jumlah tenaga kerja, mengakhiri periode pemutusan hubungan kerja (PHK) selama empat bulan,” tuturnya.
Pada saat yang sama, persediaan produk jadi kembali menurun, karena produsen memanfaatkan stok yang tersedia untuk memenuhi pesanan. Kendati aktivitas produksi mulai pulih, pelaku industri masih berhati-hati dalam melakukan pembelian bahan baku.
Aktivitas pembelian kembali turun untuk bulan kelima berturut-turut, dipengaruhi kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan. Sejumlah perusahaan juga memilih mengurangi persediaan bahan baku sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi permintaan yang belum sepenuhnya pulih.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga efisiensi selama arus pesanan baru masih cenderung lemah. Di sisi rantai pasok, waktu pengiriman bahan baku kembali memanjang untuk bulan kesepuluh berturut-turut akibat masih adanya keterlambatan pengiriman dari pemasok.
Namun, tingkat perlambatan pengiriman menjadi yang paling ringan selama periode tersebut, seiring mulai membaiknya pasokan bahan baku di sejumlah perusahaan. Tekanan biaya produksi juga masih membayangi industri manufaktur.
S&P Global mencatat, inflasi harga input tetap berada pada level yang cukup tinggi, meski melambat menjadi yang terendah dalam empat bulan terakhir. Kenaikan biaya tersebut dipicu oleh naiknya harga bahan baku di pasar domestik maupun internasional.
Penguatan dolar AS turut memperbesar biaya impor bahan baku sehingga mendorong produsen kembali menaikkan harga jual untuk menjaga margin usaha.
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, prospek manufaktur dalam satu tahun ke depan dinilai semakin positif. Tingkat optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi sejak Januari 2026.
“Kepercayaan diri perusahaan mencapai titik tertinggi dalam enam bulan, didukung oleh harapan bahwa pertumbuhan penjualan dan kepercayaan klien akan semakin menguat,” tutur Bhatti.
Optimisme tersebut, lanjut Bhatti, didorong harapan bahwa penjualan dan kepercayaan konsumen terus membaik. Disertai harapan, tekanan harga bahan baku bisa mereda dalam beberapa bulan mendatang.
“Beberapa produsen berharap adanya pelonggaran tekanan harga lebih lanjut untuk mendukung pertumbuhan, di mana perkembangan di Timur Tengah tetap menjadi kunci untuk hal ini dalam beberapa bulan ke depan,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










