Jungkir Balik Harga Minyak Dunia, Bright Institute: Hati-hati Anggaran Jebol

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 29 Maret 2026 – 17:14 WIB

Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky. (Foto: Tangkapan layar Youtube Awalil Rizky).

Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky. (Foto: Tangkapan layar Youtube Awalil Rizky).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky mengingatkan pemerintah akan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah, bakal sangat mengganggu perekonomian di dalam negeri. Keuangan negara dan perekonomian nasional bakal babak belur.

“Kenaikan harga energi di dunia, biasanya merambat ke berbagai sektor ekonomi, termasuk APBN kita. Karena, energi adalah komponen utama di hampir seluruh aktivitas ekonomi di dunia,” ujar Awalil, Jakarta, dikutip Minggu (29/3/2026).

Ya, setuju. Indonesia sebagai negeri net imported jelas kena pulutnya ketika harga minyak dunia meroket. Bayangkan saja, kebutuhan minyak di Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari.

Sementara, produksi minyak dalam negeri ambruk di angka 600 ribu barel per hari. Mau tak mau harus impor 1 juta barel per hari.

Nah, ketika harga minyak dunia di atas US$100 per barel, berdampak kepada harga BBM. Kalau BBM kelas nonsubsidi tidak ada masalah, karena harganya menyesuaikan dengan harga pasar.

Masalahnya ada di BBM subsidi yakni Pertalite dan Solar. Semakin mahal harga minyak dunia, makin bengkak pula subsidinya. Tahun ini saja, pemerintah menetapkan subsidi energi sebesar Rp210,06 triliun. Terbagi untuk BBM dan LPG sebesar Rp105,42 triliun, serta listrik sebesar Rp104,65 triliun.

“Kenaikan harga minyak menimbulkan tekanan tambahan terhadap anggaran negara. Selain itu, lonjakan harga energi berpotensi menekan daya beli masyarakat karena memicu inflasi,” kata Awalil.

Minyak Dunia Makin Mahal

Pada perdagangan Jumat (27/3/2026), harga minyak dunia melonjak signifikan, bahkan menyentuh titik termahal dalam hampir 4 tahun terakhir. Kenaikannya dipicu kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global, akibat penutupan Selat Hormuz, dampak memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data perdagangan global, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 5,46 persen ke level US$99,64 per barel. Sebelumnya, sempat menembus harga psikologis menjadi U$100,04 per barel.

Sedangkan crude oil jenis Brent mencatatkan lonjakan signifikan, naik 4,22 persen ke posisi US$112,57 per barel. Harga ini termahal sejak 4 Juli 2022. Kala itu, Brent dibanderol US$113,5 per barel.

Artinya, harga crude Brent kembali lompat mendekati puncak dalam hampir empat tahun belakangan. Kenaikan harga minyak mentah saat ini, tergolong paling agresif. Di mana, minyak WTI naik 39,88 persen secara bulanan dan 43,66 secara tahunan. Sedangkan jenis Brent naik 44m8 persen secara bulanan dan 54,71 secara tahunan.

Perkembangan signifikan ini, mencerminkan adanya tekanan yang tidak bisa diremehkan di pasar energi global, yang kini dibayangi ketidakpastian level tinggi.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang