Apple resmi memasuki babak baru. John Ternus kini duduk di kursi CEO menggantikan Tim Cook, dan ia langsung mewarisi satu pekerjaan rumah yang sudah menumpuk bertahun-tahun: kecerdasan buatan.
Ternus mengambil alih perusahaan dalam kondisi keuangan yang nyaris sempurna. Sejak Cook menjabat pada 2011, harga saham Apple melonjak lebih dari 2.000 persen. Dalam rentang yang sama, perusahaan menjual lebih dari 3,1 miliar unit iPhone. Angka-angka itu membuat siapa pun yang menggantikan Cook berada di posisi sulit, karena hampir mustahil terlihat lebih baik dari pendahulunya di atas kertas.
Masalahnya, ancaman terhadap Apple hari ini tidak datang dari sisi yang biasa mereka kuasai.
Apple Tidak Memegang Kendali atas AI-nya Sendiri
Selama puluhan tahun, kekuatan Apple bertumpu pada satu prinsip: merancang perangkat keras dan perangkat lunaknya sendiri, lalu mengunci keduanya dalam satu ekosistem tertutup. Prinsip itu yang melahirkan iPhone, dan yang membuat pesaing kesulitan menirunya.
Prinsip itu tidak berlaku di kecerdasan buatan. VP of Data and Analytics IDC, Fransisco Jeronimo, menilai Apple justru tidak menguasai infrastruktur AI yang menjadi fondasi teknologi ini. Perusahaan memang membangun teknologi AI-nya sendiri, tetapi pada praktiknya masih bersandar pada pihak lain. Menurut Jeronimo, di titik inilah Ternus kemungkinan akan mengambil jalan yang berbeda dari Tim Cook.
Ketergantungan itu sudah memakan korban. Kesepakatan Apple dengan OpenAI pada 2024 untuk menanamkan ChatGPT ke dalam iPhone berakhir dengan perselisihan tajam. Apple bahkan menggugat OpenAI awal tahun ini dengan tuduhan pencurian rahasia dagang.
Setelah itu, Apple berpaling ke Google. Awal tahun ini kedua perusahaan sepakat menggunakan Gemini AI untuk menopang model milik Apple sekaligus versi terbaru Siri. Artinya, asisten suara paling ikonik di dunia teknologi kini sebagian bergantung pada mesin milik pesaing terberatnya di pasar smartphone.
Risiko Terbesar: Apple Jadi Tidak Relevan
Jeronimo menyebut bahaya sesungguhnya bukan soal Apple kalah cepat, melainkan soal Apple kehilangan relevansi. Ia menggambarkan situasi di mana pemain seperti OpenAI dan Anthropic memimpin dari sisi teknologi, popularitas, layanan, hingga berpotensi merambah perangkat keras.
Skenario yang paling ia soroti adalah jika OpenAI suatu saat merilis perangkat sendiri. Menurutnya, gadget semacam itu berpotensi mengubah total cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Jika Apple tidak berdiri di garis depan perubahan tersebut, risikonya sangat besar.
Ini pertaruhan yang berbeda dari yang pernah dihadapi Cook. Cook menghadapi persoalan rantai pasok, tekanan regulasi, dan perang harga. Ternus menghadapi kemungkinan bahwa produk andalannya, iPhone, tidak lagi menjadi pintu utama orang mengakses teknologi.
Modal Ternus: Chip Apple Silicon dan Rekam Jejak Produk
Meski begitu, Ternus bukan datang dengan tangan kosong. Ia lama menangani lini produk inti Apple dan berada di belakang lahirnya Apple Watch serta AirPods, dua produk yang membuktikan Apple masih bisa menciptakan kategori baru.
Yang lebih penting, Ternus berperan besar dalam keputusan Apple berhenti bergantung pada pemasok chip eksternal seperti Intel dan beralih merancang prosesornya sendiri. Langkah itu awalnya diragukan banyak pihak, tetapi kini menjadi salah satu keunggulan struktural Apple yang paling sulit ditandingi.
Pola yang sama, jika berhasil diulang di sektor AI, bisa menjawab persis kritik yang dilontarkan Jeronimo. Apple juga masih memegang dua aset yang tidak dimiliki pemain AI mana pun: basis pengguna raksasa dan budaya perusahaan yang terbukti mendominasi inovasi selama puluhan tahun.
Jeronimo membandingkan tiga generasi kepemimpinan Apple secara ringkas. Steve Jobs unggul di inovasi dan disrupsi, Tim Cook unggul di eksekusi. Ia menilai Ternus berpeluang menjadi perpaduan keduanya. Tahun-tahun ke depan, kata dia, yang akan menentukan apakah Apple masih berada di jalur yang benar atau justru mulai kewalahan.
Ujian Pertama: Apple Event 9 September
Semua spekulasi itu akan menemui bukti pertamanya dalam waktu dekat. Apple Event digelar pada 9 September mendatang, dan itu menjadi penampilan perdana Ternus sebagai CEO.
Pengamat tidak hanya menunggu produk apa yang keluar, tetapi seberapa besar porsi pidatonya dihabiskan untuk membahas AI. Dari sisi produk, acara tersebut diperkirakan memperkenalkan iPhone 18 Pro Series, iPhone lipat pertama Apple, serta Siri versi baru yang sepenuhnya berbasis AI.
Tugas paling awal Ternus sebenarnya sederhana tapi berat: meyakinkan publik bahwa ia pantas berdiri di panggung yang selama ini identik dengan Steve Jobs dan Tim Cook. Sisanya akan diuji dalam beberapa tahun ke depan.












