Pendiri sekaligus pemilik dari perusahaan konglomerat MNC Group, Hary Tanoesoedibjo. (Foto: Antara/Fianda Sjofjan Rassat)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pamor MNC Group yang merupakan kerajaan bisnis Hary Tanoesoedibjo atau Hary Tanoe (HT) semakin redup di pasar saham global.
Pasalnya, indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) ‘menendang’ dua perusahaan listing Hary Tanoe yang bertengger di papan MSCI Index.
Pada Agustus ini, MSCI mengeluarkan PT MNC Land Indonesia Tbk (KPIG) dari MSCI Small Cap Index. Pada Mei lalu, MSCI mencoret PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) dari MSCI Small Cap Index.
Tentu saja, keputusan MSCI mengusir dua perusahaan milik ‘raja media’ itu, punya alasan kuat. Ditilik dari kinerja perusahaan, memang tidak bagus-bagus amat.
Kinerja Merosot KPIG
Misalnya saja, PT MNC Land Indonesia Tbk (KPIG) yang didera penurunan laba di paruh pertama 2026 ini, sebesar Rp349,6 miliar, masih di bawah laba bersih semester I-2025 yang mencapai Rp421,7 miliar.
Pendapatan KPIG di periode sama, terkumpul Rp1,11 triliun, naik ketimbang semester I-2025 sebesar Rp963,9 miliar.
Hanya saja, beban pokok pendapatan membengkak menjadi Rp809,1 miliar ketimbang periode yang sama di tahun lalu, sebesar Rp635,6 miliar.
Sedangkan jumlah ekuitas KPIG mencapai Rp29,93 triliun. Atau surplus ketimbang akhir 2025, senilai Rp28,76 triliun.
Total aset Rp36,67 triliun, mengalami peningkatan dari akhir tahun lalu Rp35,99 triliun.
Harga saham KPIG pun terus ambruk, dari Rp74 per saham menjadi hanya Rp70 per saham pada Kamis (13/8/2026). Sejak awal tahun 2026, saham KPIG mengalami terjun bebas nyaris 55 persen. Pada 2 Januari 2026, saham KPIG masih dibanderol Rp157 per lembar.
Kinerja Moncer tak Dilihat MSCI
Sedangkan kinerja keuangan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), sedikit lebih baik ketimbang ‘saudaranya’ itu. Paruh pertama 2026, perseroan berhasil mengoleksi laba bersih Rp284,3 miliar, atau naik Rp37 miliar dibanding laba bersih semester I-2025 yang mencapai Rp241,3 miliar.
Sedangkan total pendapatan mencapai Rp2 triliun, atau tumbuh dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, sebesar Rp1,82 triliun.
Di sisi lain, MSIN membukukan penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp2,01 triliun. Atau tumbuh 33,4 persen dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya, sebesar Rp1,51 triliun.
Karena penerimaan yang naik, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi MSIN, ikut melonjak hingga 284,7 persen, menjadi Rp236,13 miliar. Berlipat-lipat kali dibanding capaian periode yang sama di tahun lalu, hanya Rp61,38 miliar.
Anehnya, meski performa perusahaan tergolong mengilap, harga saham MSIN malah anjlok. Pada Kamis (13/8/2028), tiap lembar saham MSIN dihargai Rp370, atau turun Rp10 yang setara 2,63 persen.
Sayangnya, kinerja yang lumayan mentereng dari MSIN tidak berpengaruh terhadap keputusan MSCI. Indeks global yang jadi acuan investor global itu, menolak kehadiran emiten milik Hary Tanoe. Entah sampai kapan?
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











