Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman. (Foto: Inilah.com).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai akselerasi belanja pemerintah sejak awal tahun membantu menjaga permintaan domestik.
“Belanja bantuan sosial (bansos), proyek pemerintah, hingga program prioritas menjadi faktor utama yang menopang permintaan dalam negeri di triwulan I-2026,” ujarnya di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Sebagaimana laporan Badan Pusat Statistik (BPS), belanja pemerintah mengalami pertumbuhan sebesar 21,81 persen. Komponen ini berkontribusi 1,26 persen terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) triwulan I-2026 yang mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen.
“Belanja pemerintah pada triwulan I menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi di tengah lemahnya konsumsi kelas menengah dan perlambatan manufaktur,” ujar Rizal.
Namun, ia menyoroti efektivitas belanja pemerintah yang dinilai masih belum optimal mengingat sebagian besar masih didorong oleh belanja rutin.
Sementara itu, PMI manufaktur sempat turun mendekati zona stagnan dan daya beli masyarakat masih membutuhkan dukungan tambahan.
“Artinya, fiskal saat ini lebih berfungsi sebagai bantalan perlambatan ekonomi dibanding pendorong ekspansi baru,” kata Rizal.
Untuk triwulan berikutnya, Rizal berpendapat dampak belanja pemerintah masih akan menopang pertumbuhan. Namun, ruang akselerasinya mulai terbatas jika sektor swasta belum pulih kuat.
Strategi front loading Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai cukup membantu menjaga pertumbuhan triwulan I tetap di atas 5 persen. Namun, keberlanjutannya sangat bergantung pada kualitas belanja pemerintah.
“Jika belanja hanya mendorong konsumsi jangka pendek tanpa memperkuat investasi, industri, dan penciptaan lapangan kerja, maka efek penggandanya akan cepat melemah,” jelasnya.
Karena itu, ia merekomendasikan pemerintah untuk memperluas fokus dari sekadar percepatan serapan anggaran menjadi memastikan belanja yang benar-benar produktif.
Belanja pemerintah, lanjut Rizal, perlu diarahkan pada program-program yang memiliki efek berganda (multiplier effect) tinggi dan mampu menarik investasi domestik.
Strategi tersebut dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pada semester II agar tidak mengalami moderasi.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










