Ornamen ‘Kuda Api’ tampak menghiasi kawasan Eu Tong Sen Street, sebuah jalan raya utama dan pusat perbelanjaan sibuk di kawasan Chinatown, Singapura, menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. (Foto: Facebook/Singapore Global Network)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Aroma pergantian tahun makin menyengat. Selasa (17/2/2026) nanti, kalender lunar resmi menanggalkan kulit ‘Ular’-nya dan beralih ke periode yang lebih bertenaga: Tahun Kuda. Tak heran jika ornamen merah menyala dan emoji kuda mulai membanjiri ruang publik hingga layar ponsel miliaran warga Tionghoa di seluruh dunia.
Namun, Imlek kali ini bukan sekadar ritual ganti kalender. Tahun 2026 menandai kembalinya siklus Kuda Api atau Bing Wu, sebuah kombinasi elemen yang diyakini membawa gairah sekaligus tantangan tersendiri.
Bukan Sekadar Siklus 12 Tahun
Ada satu kekeliruan umum yang perlu diluruskan. Banyak yang mengira shio hanya berputar setiap 12 tahun. Padahal, sistem penanggalan Tionghoa menganut siklus besar 60 tahunan. Ini terjadi karena setiap shio hewan harus bertemu dengan salah satu dari lima elemen (Logam, Air, Kayu, Api, dan Tanah) dalam versi Yin atau Yang.
Tahun ini, elemen Api (Yang) bertemu dengan Kuda. Kombinasi ini melahirkan simbolisasi yang kuat: aktivitas tinggi, kemandirian, dan tindakan cepat. Kuda Api adalah representasi dari momentum yang tak terbendung.
Antara Gairah dan Kelelahan: Fenomena ‘Niuma’
Menariknya, filosofi Kuda Api ini memunculkan paradoks di kalangan pekerja modern, khususnya di China. Dr. Christian Yao, pengamat manajemen dari Universitas Victoria Wellington, Selandia Baru, menyebut tahun 2026 akan dipenuhi jargon korporat yang menuntut karyawan bekerja ‘secepat kuda’.
Di sisi lain, para pekerja muda justru mengidentifikasi diri mereka dengan istilah satir: ‘niuma’ (secara harfiah berarti kuda-lembu). Istilah ini menggambarkan sosok pekerja keras yang sebenarnya kelelahan dan merasa diperas tenaganya.
“Ada ketegangan khas di tempat kerja saat ini. Di satu sisi, narasi publik menuntut semangat yang membara ala Kuda Api. Di sisi lain, realitas pribadi mereka mengakui kelelahan dan ketidakberdayaan sebagai ‘niuma’,” ungkap Dr. Yao.
Jejak Mitos ‘Nian’
Jauh sebelum urusan korporat, Imlek berakar pada legenda kuno Dinasti Shang (abad ke-14 SM). Alkisah, ada monster bernama Nian yang gemar meneror desa di awal tahun.
Leluhur Tionghoa kemudian menemukan kelemahan Nian: ia takut suara keras, cahaya terang, dan warna merah. Itulah sebabnya, hingga detik ini, lampion merah dan petasan menjadi ‘senjata wajib’ dalam setiap perayaan Imlek untuk mengusir nasib buruk.
Migrasi Manusia Terbesar
Terlepas dari mitos dan filosofi kerja, Imlek tetaplah momen sakral untuk pulang. Di China, fenomena ini disebut Chunyun. Tahun ini diperkirakan terjadi 9,5 miliar perjalanan lintas wilayah. Ini adalah migrasi manusia terbesar di muka bumi dalam periode singkat.
Meskipun shio Kuda melambangkan kecepatan, realitas di lapangan justru sebaliknya. Jutaan orang harus bertarung mendapatkan tiket, menembus kemacetan, dan merogoh kocek dalam-dalam demi satu hal yang tak ternilai: reuni keluarga di kampung halaman.











