IDAI Soroti Krisis Mental Remaja, 61 Persen Penderita Depresi Punya Pikiran Bunuh Diri

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Kamis, 23 Juli 2026 – 12:55 WIB

Ilustrasi krisis kesehatan mental anak. (Dokumentasi: Istockphoto)

Ilustrasi krisis kesehatan mental anak. (Dokumentasi: Istockphoto)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Angga Wirahmadi, mencermati kondisi kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia yang dinilai kian mengkhawatirkan.

Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan satu dari tiga remaja usia 10-17 tahun, atau sekitar 15,5 juta jiwa, mengalami sedikitnya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Angga menjelaskan salah satu gangguan mental yang paling banyak ditemukan ialah depresi. Sekitar 2 persen anak Indonesia berusia 15-24 tahun tercatat mengalami depresi.

“Dan menyeramkannya, 61 persen dari mereka memikirkan untuk bunuh diri 1 bulan,” katanya dalam seminar media yang digelar secara daring oleh Pengurus Pusat IDAI, Jakarta, dikutip Kamis (23/7/2026).

Remaja Perempuan Banyak Alami Depresi

Menurut Angga, depresi lebih banyak dialami remaja perempuan, mereka yang menempuh pendidikan menengah, serta remaja yang tinggal di wilayah perkotaan. Meski angkanya cukup tinggi, hanya sebagian kecil remaja yang mencari pertolongan medis.

“Dan walau angka ini termasuk tinggi, ternyata hanya 10 persen populasi usia muda ini yang mencari pertolongan ke dokter. Jadi masih sedikit sekali yang mencari pertolongan tenaga medis,” katanya.

Lantas bagaimana orang tua atau keluarga bisa mengetahui anak mereka mengalami depresi? Angga mengingatkan orang tua perlu lebih peka mengenali gejala depresi pada remaja.

“Itu bisa kita curigai kalau misalkan keinginannya untuk melakukan sesuatu minimal. Mereka jadi merasa rendah diri, depresi, tidak berdaya, sulit tidur, kurang energi, tidak nafsu makan, merasa dirinya tidak baik. Dan ini harus kita evaluasi lebih lanjut,” katanya.

Selain depresi, Angga juga menyoroti gangguan kecemasan (anxiety) yang kerap sulit dibedakan dari gangguan lain.

“Ini bisa kita curigai kalau mereka overthinking memikirkan sesuatu, menghindari sesuatu yang mereka tidak suka, sering berkeringat, sakit perut, butuh selalu ditenangkan, selalu bergerak karena merasa khawatir, sakit kepala, berdebar-debar, sulit tidur,” ujarnya.

Ia menambahkan, kesehatan mental remaja dipengaruhi banyak faktor, mulai dari keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, hingga paparan media sosial.

Selain itu, digitalisasi, iklan, media sosial, kondisi pascabencana atau konflik, kesulitan mengakses makanan, hingga gaya hidup yang kurang sehat juga ikut memengaruhi kondisi psikologis remaja.

“Faktor lain juga berpengaruh seperti digitalisasi, iklan, pengaruh media sosial, lalu untuk remaja-remaja yang tinggal di daerah yang konflik ataupun pascabencana, lalu kesulitan mendapatkan akses makanan, dan juga gaya hidup yang tidak baik, itu berperan pada kesehatan mental remaja,” katanya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang