Gencarkan SRBI dan Kerek Suku Bunga Acuan. BI Masih Kesulitan ‘Jinakkan’ Dolar AS

Clara Medium.jpeg

Rabu, 27 Mei 2026 – 22:17 WIB

Ilustrasi Bank Indonesia. (Foto: Antara)

Ilustrasi Bank Indonesia. (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Untuk membendung ambruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$), Bank Indonesia (BI) menggencarkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ternyata, langkah tersebut tak mujarab karena rupiah tetap saja ambruk mendekati level psikologis Rp18.000/US$.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menyebut, tingginya permintaan valuta asing (valas) khususnya dolar AS adalah pemicunya. Meski BI gencarkan SRBI serta kerek naik suku bunga acuan (BI rate) menjadi 5,25 persen, rupiah tetap saja ‘melempem’.

Bank sentral merah putih tancap gas dalam menerbitkan SRBI untuk menyerap likuiditas dan memperkuat cadangan dolar AS.

Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI), posisi utang luar negeri (ULN) jangka pendek BI naik dari US$15,85 miliar di akhir 2025, menjadi US$18,53 miliar per akhir Maret 2026. Pertanda, BI memang betul gencar terbitkan SRBI.

Namun, langkah tersebut gagal membendung keambrukan rupiah hingga ke level Rp17.796 per dolar AS saat penutupan perdagangan Selasa (26/5), berdasarkan data Bloomberg.

Menurut Myrdal, agresifnya penerbitan SRBI mencerminkan langkah BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah tingginya kebutuhan dolar AS di pasar domestik.

“BI cukup agresif, mereka terus menyerap likuiditas terutama menyasar valas. Supaya amunisi BI berlimpah. Sehingga ketika ada permintaan dolar AS di domestik, BI bisa mengakomodasi itu,” kata Myrdal, Rabu (27/5/2026).

Ketika rupiah melemah signifikan, kata dia, BI lazimnya meningkatkan penyerapan likuiditas melalui lelang SRBI dalam jumlah besar. Nominalnya bisa mencapai Rp30 triliun untuk menarik dana sebesar-besarnya dari luar negeri.

Meski posisi SRBI dan ULN jangka pendek BI meningkat, Myrdal menilai, risiko terhadap stabilitas moneter relatif aman. Lantaran BI terus melakukan rollover terhadap instrumen yang jatuh tempo.

Namun, diingatkan bahwa strategi tersebut tetap memiliki ongkos yang mahal, karena BI perlu menawarkan yield SRBI yang lebih menarik ketika likuiditas pasar mengetat.

“Tekanan terhadap rupiah pada saat ini, sebagian besar berasal dari global, seperti meningkatnya aksi risk aversion investor global dan penguatan dolar AS. Selain itu, tingginya permintaan valas domestik,” imbuhnya.

Dia menyebut, kebutuhan impor energi yang meningkat akibat harga minyak di atas US$100 per barel, memperbesar permintaan akan dolar AS. Di sisi lain, kebutuhan pembayaran dividen dan kebutuhan haji menyumbang peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik.

“Lalu yang berikutnya terkait persoalan konversi valas menjadi mata uang rupiah di sistem keuangan domestik oleh eksportir. Ini juga masih menjadi perhatian dari situasi rupiah saat ini yang melemah,” ujarnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang