Sepanjang 2025, rupiah babak belur menghadapi dolar AS hingga tembus rekor terburuk Rp17.261 akibat tarif dagang Donald Trump. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menuding Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kerap mengeklaim fundamental ekonomi sangat kuat. Kini mulai banyak diragukan orang.
“Mereka mengatakan bahwa nilai tukar atau kurs rupiah seharusnya menguat karena saat ini nilainya terlalu murah atau undervalued. Nyatanya, kurs rupiah ambruk hingga di atas Rp17.000 per dolar AS. Pertanda ada masalah di fundamental ekonomi kita,” ungkap Anthony di Jakarta, Sabtu (4/4/2026).
Baik BI maupun Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, kata Anthony, selama ini menyebut rupiah masih bisa tembus di bawah Rp15.000 per dolar AS. Bahkan sempat pula berkembang narasi kurs rupiah akan bertengger di level Rp12.000 per dolar AS.
“Jadi ingat Jokowi yang pernah berilusi bahwa rupiah akan ke bawah Rp10.000 per dolar AS. Nyatanya, sepuluh tahun berkuasa malah babak belur,” tandasnya.
Merujuk pada nilai cadangan devisa (cadev) Indonesia yang relatif besar sebagai penopang, mata uang Garuda seharusnya menguat. Namun fakta berkata lain. Rupiah terus tergelincir dan kini tembus Rp17.000 per dolar AS.
Mengapa bisa demikian? “Ternyata, cadangan devisa kita terus menggelembung akibat utang luar negeri,” imbuhnya.
Selama 2014–2025, kata dia, cadangan devisa naik US$44,6 miliar, dari US$111,9 miliar menjadi US$156,5 miliar. Di sisi lain, utang luar negeri melonjak drastis, dari US$292 miliar pada 2014 menjadi US$431,7 miliar, atau bertambah US$139,7 miliar.
Utang luar negeri seharusnya memperkuat cadangan devisa. Namun, hanya sekitar 32 persen yang masuk ke cadangan, yakni US$44,6 miliar dibandingkan total kenaikan utang sebesar US$139,7 miliar.
Lalu, ke mana sisanya? Kemungkinan digunakan untuk menambal berbagai defisit neraca, terutama defisit neraca pembayaran primer yang terakumulasi hingga US$397,9 miliar.
“Kondisi ini menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup rapuh. Cadangan devisa berasal dari utang luar negeri,” ungkapnya.
Aliran investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) sebesar US$241,9 miliar memang terlihat besar. Namun, menurutnya, hal itu tidak banyak membantu memperkuat fundamental ekonomi. Dalam jangka menengah hingga panjang, FDI justru berpotensi menjadi bumerang karena dapat memicu pembengkakan defisit neraca pembayaran primer.
“Tanpa reformasi struktural, gelembung utang luar negeri ini akan pecah. Rupiah bisa anjlok tajam dan memicu krisis nilai tukar. Konflik Iran yang berkepanjangan berpotensi menjadi pemicu capital outflow. Investor asing lari ke safe haven, rupiah tergelincir lebih dalam,” pungkasnya.
Pada perdagangan Jumat (3/4), kurs rupiah ditutup melemah di level Rp17.000/US$. Pelemahan ini terjadi saat mayoritas mata uang Asia justru menguat sepanjang pekan.
Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di posisi Rp16.990 per US$, atau melemah 0,09 persen dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, mata uang Garuda melemah 0,18 persen.
Sementara itu, baht Thailand menjadi mata uang Asia yang paling terpuruk dengan pelemahan terhadap dolar AS sebesar 0,4 persen sepanjang pekan ini, ke level 4,04 per US$.
Mata uang Asia lain yang juga mengalami pelemahan adalah won Korea Selatan yang turun 0,17 persen terhadap dolar AS sepanjang pekan ini, ke level 1.509,8 per US$.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











