Eropa Meradang: Retorika ‘Koboi’ Trump dan Kematian Hubungan Trans-Atlantik

Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan sekutu Eropanya kini berada di titik nadir. Retorika Presiden AS Donald Trump yang meremehkan pengorbanan pasukan sekutu di Afghanistan, ditambah ambisi militeristisnya terhadap Greenland, telah memicu gelombang kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Benua Biru.

Dalam sebuah wawancara di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), Trump melontarkan pernyataan yang menyayat hati para keluarga prajurit sekutu. Ia menyebut kontribusi pasukan NATO di Afghanistan tidak pernah benar-benar diminta dan hanya berada di ‘belakang garis depan’.

Tamparan Bagi Sekutu Setia

Pernyataan ‘koboi’ ini langsung mendapat bogem mentah dari para pemimpin Eropa. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut ucapan Trump ‘menyinggung dan benar-benar mengerikan’. Starmer mengingatkan Washington bahwa banyak putra-putri terbaik Inggris yang pulang dalam peti mati demi menyokong perang AS di Afghanistan.

Nada serupa datang dari PM Polandia Donald Tusk. Lewat pernyataan keras di media sosial, Tusk menegaskan bahwa Polandia juga kehilangan pasukannya di medan laga yang sama. Komentar Trump dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap solidaritas militer yang telah dibangun puluhan tahun.

Obsesi Greenland dan ‘Neokolonialisme’ Baru

Ketegangan makin memuncak saat Trump menyeret isu kedaulatan Greenland ke meja panas. Ia mengisyaratkan bahwa opsi militer tetap terbuka demi mengakuisisi wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark tersebut. Ambisi ini dijuluki para pemimpin Eropa sebagai bentuk ‘neokolonialisme’ modern.

PM Denmark Mette Frederiksen dengan tegas menyatakan bahwa kedaulatan negaranya bukan barang dagangan. “Kedaulatan kami tidak dapat dinegosiasikan,” tegasnya.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menilai tindakan AS ini sebagai upaya ‘melemahkan dan menundukkan Eropa’ melalui tekanan tarif dan ancaman teritorial. Macron menyebut cara-cara ini secara fundamental tidak dapat diterima dalam pergaulan internasional.

Babak Akhir Hubungan Trans-Atlantik?

Kini, masa depan NATO dan kerja sama Eropa-AS berada di ujung tanduk. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengakui hubungan trans-atlantik mendapat pukulan telak. Bahkan, mantan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, secara pesimistis menyatakan kepada CNN bahwa hubungan trans-atlantik sebagaimana yang dikenal selama berdekade-dekade ‘kini telah mati’.

Secara hukum internasional, ancaman militer Trump terhadap Greenland dinilai melanggar Piagam PBB dan Pakta Atlantik Utara. Ironisnya, sebagai sesama anggota NATO, serangan terhadap Greenland secara teknis berarti AS menyerang sekutunya sendiri.

Tameng Rudal ‘Golden Dome’

Meski Trump belakangan menarik ancaman tarif dan militer, tim ekonominya tetap bersikeras bahwa Greenland adalah harga mati bagi keamanan nasional AS. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut pulau Arktik itu sangat krusial bagi sistem perisai rudal Golden Dome.

Namun, Michael O’Hanlon dari Brookings Institution menilai argumen AS terlalu berlebihan. Menurutnya, tanpa harus memiliki secara kedaulatan, AS sudah memiliki kewajiban dan kemampuan untuk melindungi wilayah tersebut berdasarkan perjanjian yang ada. 

Ambisi sesungguhnya diduga kuat tertuju pada rute pelayaran baru dan kekayaan alam Arktik yang mulai tersingkap akibat mencairnya es.