El Nino. (Foto: uistock)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Fenomena iklim ekstrem El Nino “Godzilla” yang memicu kekeringan berkepanjangan membawa ancaman serius bagi kesehatan anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi besar meningkatkan risiko stunting, malnutrisi, hingga memicu lonjakan penyakit mematikan akibat terganggunya ketahanan pangan dan krisis air bersih.
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp.Respi(K), memprediksi angka stunting dapat meroket tajam jika tidak ada mitigasi yang tepat.
“Prevalensi stunting tahun 2022 menurut Riskesdas sebesar 21,6 persen dan meningkat dengan adanya El Nino ini sampai bertambah 15-25 persen,” tegas Darmawan dalam sebuah seminar daring pada Selasa (19/5/2026).
Darmawan menjelaskan, musim kemarau ekstrem secara langsung berdampak pada gagal panen yang memicu kenaikan harga pangan pokok. Situasi ini membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Akibatnya, anak-anak rentan mengalami malnutrisi akut maupun kronis yang pada akhirnya menyebabkan stunting dan mengganggu kemampuan intelektual mereka.
Di tengah krisis iklim ini, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Hal tersebut dikarenakan sistem kekebalan dan kemampuan pengaturan suhu tubuh mereka yang belum matang sempurna. “Anak kehilangan cairan lebih cepat per kilogram berat badannya dibandingkan orang dewasa,” ungkapnya.
Selain krisis gizi, El Nino memicu efek domino terhadap kualitas sanitasi. Kekeringan menyebabkan penyusutan dan pencemaran sumber air bersih, yang meningkatkan risiko penyakit bawaan air (waterborne diseases) maupun penyakit bawaan vektor. Darmawan menyebutkan potensi lonjakan kasus diare, pneumonia, demam berdarah dengue (DBD), hingga malaria.
“Di Indonesia, seperti juga sebenarnya di berbagai negara berkembang lainnya, diare ini merupakan dua penyebab utama kematian pada balita bersama dengan pneumonia,” jelasnya.
Ancaman lain yang tak kalah berbahaya adalah polusi udara akibat kebakaran hutan selama musim kemarau. Partikel polutan halus berukuran PM2.5 dapat menembus saluran pernapasan, masuk ke aliran darah, dan merusak berbagai organ vital. Pada anak di bawah usia lima tahun yang paru-parunya masih dalam fase tumbuh kembang, paparan polusi ini dapat memicu kerusakan permanen.
Melihat besarnya ancaman tersebut, Darmawan mendesak pemerintah untuk segera memperkuat langkah mitigasi. Upaya ini harus mencakup penguatan layanan kesehatan, jaminan ketahanan pangan, perluasan akses air bersih, serta peningkatan sistem kesiapsiagaan menghadapi lonjakan kasus penyakit pada anak.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









