Aksi biadab pemukim ilegal Israel di Tepi Barat, Palestina, telah memicu amarah dan gelombang kecaman yang masif dari seluruh penjuru dunia. Tindakan ekstremis yang membakar masjid dan kitab suci Alquran di Deir Istiya kini menjadi sorotan utama, memaksa bahkan sekutu terdekat Israel untuk angkat bicara.
Tragedi intoleransi ini terjadi pada Rabu (12/11/2025) malam, di mana para pemukim Zionis membakar dinding Masjid Hajja Hamida dan menghanguskan setidaknya tiga salinan Alquran. Aksi vandalisme ini disertai dengan pesan-pesan provokatif berbahasa Ibrani yang dicorat-coret di dinding masjid, antara lain berbunyi: ‘Kami tak takut’, ‘kami akan balas dendam lagi’, dan ‘terus kecam’.
Tindakan provokatif dan keji ini memicu reaksi berantai dari berbagai organisasi dan komunitas internasional.
Suara Keras dari Palestina dan Yordania
Reaksi keras pertama datang dari pihak yang paling dirugikan. Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengecam keras serangan itu dan menyebutnya sebagai ‘tindakan keji’. Mereka juga menyoroti perlakuan diskriminatif Israel terhadap situs-situs Muslim dan Kristen di wilayah yang diduduki.
Solidaritas ditunjukkan oleh Yordania, salah satu aktor kunci di Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri Yordania ‘mengutuk dengan keras’ serangan yang dilakukan pemukim.
Juru bicara Kemlu Yordania menyatakan serangan tersebut sebagai perpanjangan dari ‘kebijakan ekstremis dan retorika provokatif pemerintah Israel’ yang telah memicu gelombang kekerasan dan ekstremisme terhadap rakyat Palestina.
Sekutu Israel Turut Bersuara: Jerman Tuntut Investigasi
Yang mengejutkan, kecaman kali ini datang dari negara-negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Israel.
Jerman, yang jarang mengkritik Israel, kali ini menyerukan penghentian kekerasan dan menuntut adanya investigasi menyeluruh. Rilis resmi dari Jerman menegaskan bahwa insiden ini harus ditangani serius, dan mereka yang bertanggung jawab harus segera dimintai pertanggungjawaban.
Senada, Kementerian Luar Negeri Swiss mengeluarkan kecaman keras, menilai tindakan di Tepi Barat tersebut ‘tak bisa diterima’. Mereka secara eksplisit menuntut agar “Kekerasan ini dan ekspansi yang terus berlanjut terkait pendudukan ilegal harus segera dihentikan.”
PBB dan Amerika Serikat Terguncang
Di tingkat global, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, menyampaikan bahwa komunitas internasional sangat terguncang dengan peristiwa penodaan situs keagamaan tersebut.
“Serangan semacam itu terhadap situs keagamaan sama sekali tak bisa diterima,” kata Dujarric, dikutip Al Jazeera. Ia juga menegaskan bahwa PBB harus dan akan terus mengecam serangan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina dan properti mereka di Tepi Barat.
Dari pihak AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyuarakan kekhawatiran yang serupa. Rubio melihat insiden di Tepi Barat ini berpotensi merusak stabilitas yang lebih luas. Rubio khawatir peristiwa tersebut dapat meluas dan ‘menciptakan dampak yang bisa merusak apa yang kita lakukan di Gaza’, merujuk pada upaya untuk memadamkan konflik dan mencapai gencatan senjata.
Bahkan, dari internal Israel sendiri, Presiden Isaac Herzog menyebut kekerasan itu mengejutkan dan serius. Herzog menuntut semua otoritas negara untuk ‘bersikap tegas untuk memberantas fenomena ini’, sebuah pengakuan akan kian parahnya ekstremisme di kalangan pemukim ilegal.













