Disorot Elon Musk, Ternyata Ini Alasan Ada Tarif Starlink di Tengah Banjir Sumatera

Ibnu Medium.jpeg

Kamis, 4 Desember 2025 – 21:22 WIB

Sejumlah warga memanfaatkan jaringan starlink untuk menghubungi keluarganya di posko Kabupaten Aceh Tamiang di Desa Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Aceh, Rabu (3/12/2025). (Foto: Antara)

Sejumlah warga memanfaatkan jaringan starlink untuk menghubungi keluarganya di posko Kabupaten Aceh Tamiang di Desa Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Aceh, Rabu (3/12/2025). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sebuah unggahan yang menyebut adanya pungutan biaya untuk penggunaan layanan internet satelit Starlink di wilayah terdampak banjir Langsa, Aceh, viral di media sosial. Isu ini memicu kemarahan publik yang menilai adanya praktik pungutan liar (pungli) di tengah bencana.

Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut, terdapat fakta lain di balik kabar tersebut.

Awal Mula Kehebohan

Isu ini bermula dari tangkapan layar percakapan yang diunggah akun @nar***a. Dalam percakapan itu, disebutkan adanya tarif hingga Rp20 ribu untuk mengakses internet Starlink. Netizen pun ramai-ramai mengecam tindakan tersebut, menyebutnya sebagai “mental preman” dan “mental miskin” karena mengambil untung di saat susah.

Bahkan, pemilik Starlink, Elon Musk, turut di-mention oleh netizen untuk melaporkan kejadian ini. Elon Musk sendiri menegaskan bahwa kebijakan standar perusahaannya adalah menggratiskan layanan saat terjadi bencana alam.

“Tidak lah benar mengambil untung dari musibah,” tegas Elon Musk di platform X. Starlink juga mengumumkan layanan gratis bagi korban banjir di Indonesia hingga akhir Desember 2025.

Klarifikasi: Milik Pribadi, Bukan Bantuan

Setelah gaduh, akun pengunggah awal memberikan klarifikasi penting. Ternyata, perangkat Starlink yang memungut biaya tersebut bukanlah bantuan pemerintah, melainkan milik pribadi sebuah warung kopi (warkop).

Pemilik warkop membeli perangkat keras (hardware) Starlink dengan modal sendiri dan menyewakannya karena bantuan resmi belum masuk ke area tersebut saat itu.

“Jadi perkara 10k sebelumnya, itu disewakan karena Starlink donasi telat masuk. Jadi dipatok harga karena beli hardware sendiri. Warkop ini punya pribadi bukan pemerintah,” tulis klarifikasi tersebut.

Penjelasan Pemerintah

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, merespons isu ini saat meninjau Posko Tanggap Darurat di Banda Aceh, Rabu (3/12). Ia memastikan bahwa seluruh Starlink yang disediakan pemerintah di posko bencana dapat diakses gratis.

Nezar meminta masyarakat membedakan antara fasilitas posko dengan milik usaha pribadi.

“Kalau yang ada di posko, yang dibagikan untuk kepentingan umum, itu gratis. Kecuali milik pribadi itu kita tidak ngerti,” ujar Nezar Patria.

Nezar mengajak semua pihak untuk mengedepankan gotong royong dan simpati di tengah musibah, serta memastikan pemerintah terus berupaya memulihkan jaringan komunikasi di wilayah terdampak.

Topik
Komentar