Di Sekolah Rakyat, Sergio tak Perlu Lagi Berburu ke Hutan untuk Makan Enak

Ibnu Medium.jpeg

Minggu, 28 Desember 2025 – 14:22 WIB

Sergio belajar dan bermimpi di Sekolah Rakyat Papua. (Foto: Kemensos)

Sergio belajar dan bermimpi di Sekolah Rakyat Papua. (Foto: Kemensos)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dari jendela kelas 10 C di lantai dua Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 29 Jayapura, Sergio Libert Rawai menatap gunung yang menjulang di arah timur. Pandangannya menerobos ruang kelas, membawa ingatannya pulang ke Kampung Ambaidiru, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.

“Gunung itu mirip gunung Rawai di rumah,” ujarnya pelan, sembari menunjuk nama lengkapnya yang tertera di seragam putih. Rawai adalah marga sekaligus penanda asal-usulnya.

Rindu itu wajar. Sudah lebih dari lima bulan Sergio, remaja 16 tahun, tinggal di asrama SRMA 29 Jayapura tanpa pulang. Jarak kampung halamannya mencapai 584 kilometer. Dari Jayapura ke Serui harus ditempuh dengan kapal laut sekitar 29 jam, lalu dilanjutkan perjalanan darat tiga jam menuju kampung. “Naik kapal berangkat pagi, sampai pagi lagi,” katanya mengenang perjalanan panjang itu.

Terancam Putus Sekolah

Babak baru hidup Sergio bermula ketika seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial datang ke rumahnya. Ia ditawari melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat, program berasrama yang seluruh biayanya ditanggung negara. Program ini digagas pemerintah untuk anak-anak dari keluarga rentan agar tetap mendapat akses pendidikan.

Saat itu, Sergio berada di persimpangan. Ia hampir pasti tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMA di Serui karena keterbatasan ekonomi. Kakek dan neneknya, Simson dan Tirsa, yang selama ini membesarkannya, menggantungkan hidup dari kebun kopi dan sesekali bekerja sebagai tukang bangunan. Mereka juga masih menanggung biaya kuliah salah satu anaknya di kota.

“Tete (kakek) tidak setuju lanjut sekolah karena tidak ada biaya, tapi mungkin ada rezeki untuk saya,” ujar Sergio.

Tanpa menunggu lama, ia menerima tawaran itu. Restu kakek dan nenek baru menyusul setelah mereka pulang dari kebun kopi. “Nene tete kaget, terus setuju,” katanya.

Sejak kecil, Sergio tinggal bersama kakek dan neneknya setelah orang tuanya berpisah. Jauh dari pengawasan orang tua, ia tumbuh mandiri lebih cepat dari anak seusianya.

Sahabat dan Hutan

Di kampung, Sergio hampir selalu bersama Sepnat Karubaba, sahabatnya sejak SD. Sepnat dua tahun lebih tua, namun mereka bersekolah di kelas yang sama karena Sepnat terlambat masuk sekolah dasar. Keduanya sering berjalan kaki bersama menuju SMP, berangkat pukul 06.00 WIT dan tiba lebih dari satu jam kemudian, hanya beralas sandal jepit.

Tak jarang, mereka masuk hutan. Berburu bukan sekadar hobi, melainkan cara bertahan hidup. Dengan senapan angin dan jebakan, mereka berburu burung, kuskus, hingga kasuari. Hutan yang mereka tuju berjarak sekitar enam jam berjalan kaki dari kampung.

“Kalau mau makan daging, berburu. Malam cari kuskus, selesai jam tiga pagi, tidur di goa, besok lanjut jalan,” ucap Sergio tanpa dramatisasi.

Berburu sudah menjadi hal lumrah di lingkungannya. Orang tua mengizinkan, bahkan senang karena bisa menyantap daging, menu istimewa yang tak selalu tersedia. Dalam seminggu, mereka bisa mendapatkan belasan tangkapan.

Sadar akan hidup jauh dari rumah, Sergio mengajak Sepnat ikut mendaftar ke Sekolah Rakyat. Ia tak ingin sendirian. Awalnya, ibu Sepnat keberatan. Namun ayahnya akhirnya mengizinkan. “Saya ajak dia masuk supaya ada teman,” kata Sergio.

Hidup Baru di Asrama

Hari-hari awal di SRMA 29 Jayapura tak mudah. Homesick datang bersamaan dengan tuntutan beradaptasi. Meski sama-sama dari Papua, bahasa daerah Sergio dan Sepnat berbeda dengan sebagian besar siswa yang berasal dari Jayapura.

Namun perlahan, semua teratasi. Kepala sekolah, guru, wali asuh, dan wali asrama memberi pendampingan. Dari situ, Sergio mulai merasakan perubahan nyata.

“Di rumah tidur pakai tikar, di sini pakai kasur. Enak,” katanya sambil tersenyum, memamerkan sepatu dan tas baru yang ia dapatkan gratis. Di kampung, ia sekolah memakai sandal. Kini, seragam, sepatu, hingga perlengkapan belajar tersedia.

Lebih dari itu, ia tak lagi harus masuk hutan demi makan daging. Di asrama, makanan tersedia tiga kali sehari. Ayam dan ikan kini hadir tanpa perlu berburu. “Kalau di kampung berburu, kalau di sini belajar,” ujarnya polos.

Sekolah Rakyat juga membuat hidupnya lebih teratur. Ada jam tidur, waktu belajar, makan, dan bermain. Lingkungan yang kondusif membuatnya bisa fokus mengejar ketertinggalan pelajaran.

Merajut Cita-cita

Dari ruang kelas dan asrama, dunia Sergio terasa lebih luas. Ia bertemu teman-teman dari berbagai latar belakang. Bahkan, empat gurunya berasal dari Jawa. Dari pertemuan-pertemuan itu, mimpi mulai tumbuh.

Sergio bercita-cita menjadi pegawai PLN. Alasannya sederhana namun kuat: ia ingin menerangi kampungnya. Listrik baru masuk wilayahnya pada 2019. Ia sering ikut kerabatnya yang bekerja di PLN menyambung kabel dan memanjat tiang.

“Saya mau PLN supaya kampung terang,” katanya mantap.

Sementara Sepnat bermimpi menjadi anggota Polri. Ia mulai serius memperbaiki kemampuan Matematika dan Bahasa Indonesia, mempersiapkan diri untuk tes masuk kepolisian kelak.

Di balik mimpi besar itu, Sergio tetap anak 16 tahun yang merindukan pelukan kakek dan neneknya. Menjelang Natal, rindu itu kian menebal. “Sangat rindu nene tete. Harus pulang ketemu sekali,” ucapnya.

Dari hutan Ambaidiru ke asrama Sekolah Rakyat di Jayapura, perjalanan hidup Sergio menunjukkan satu hal: ketika negara hadir membuka akses pendidikan, anak-anak dari pinggiran pun punya kesempatan nyata untuk mengubah masa depan. [adv]