Defisit APBN Berpotensi Melebar Imbas Konflik AS–Iran, Banggar Minta Dijaga di Bawah 3 Persen

Clara Medium.jpeg

Kamis, 12 Maret 2026 – 17:14 WIB

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025). (Foto: Inilah.com/ Reyhaanah A)

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025). (Foto: Inilah.com/ Reyhaanah A)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menegaskan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap akan dijaga di bawah batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Hal tersebut disampaikan merespons potensi pelebaran defisit APBN akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat berdampak pada aktivitas ekonomi di Indonesia.

Menurut Said, DPR melalui Banggar berkomitmen untuk tetap mematuhi kerangka kebijakan fiskal yang telah diatur dalam undang-undang, termasuk terkait batas defisit anggaran negara. Komitmen tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas fiskal sekaligus memberikan sinyal positif bagi pasar dan investor.

“Sebagai Ketua Banggar, kami patuh terhadap Undang-Undang APBN dan Undang-Undang Keuangan Negara. Batas defisit kita 3 persen dari PDB, dan saya tidak pernah punya pikiran untuk melampaui batas itu,” ujar Said kepada wartawan di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam koridor yang relatif aman. Banggar memperkirakan defisit APBN masih dapat dijaga di kisaran 2,8 persen dari PDB sehingga tidak ada skenario yang mengarah pada pelampauan batas defisit yang telah ditetapkan.

“Saya kira defisit kita masih bisa dijaga di sekitar 2,8 persen. Kita tidak perlu khawatir berlebihan selama pengelolaan fiskal dilakukan secara disiplin,” kata dia.

Said menambahkan bahwa berbagai dinamika global, termasuk gejolak geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia, memang berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian. Namun demikian, ia menilai pemerintah memiliki ruang kebijakan yang cukup untuk melakukan mitigasi terhadap berbagai risiko tersebut.

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat manajemen fiskal melalui penajaman program prioritas serta pengelolaan belanja negara yang lebih efektif. Langkah tersebut diyakini dapat menjaga kesehatan fiskal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Ia juga menegaskan bahwa kepatuhan terhadap batas defisit bukan hanya persoalan teknis anggaran, tetapi juga menyangkut kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia di mata dunia.

“Ini juga menjadi sinyal bagi pasar dan investor bahwa fondasi fiskal kita sehat, stabil, dan berkelanjutan,” tuturnya.

Legislator Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut juga mengatakan Banggar DPR RI akan terus mengawal kebijakan fiskal pemerintah agar tetap berada dalam kerangka yang prudent serta mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang