Danantara Targetkan Puluhan Pesawat Garuda yang Grounded Bisa Mengudara Lagi di 2026

Ikhsan Medium.jpeg

Sabtu, 15 November 2025 – 17:50 WIB

Sejumlah pesawat Garuda dan Citilink terparkir di Hangar 4 Garuda Maintenance Facility (GMF), Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Sejumlah pesawat Garuda dan Citilink terparkir di Hangar 4 Garuda Maintenance Facility (GMF), Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menetapkan target agresif dalam restrukturisasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Prioritas utama saat ini adalah mempercepat perawatan dan pemeliharaan (maintenance) puluhan armada yang masih berstatus dilarang terbang atau grounded. Tujuannya jelas: seluruh pesawat tersebut harus kembali beroperasi penuh pada tahun 2026.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Managing Director Danantara Indonesia, Febriany Eddy, mengungkapkan bahwa kondisi pesawat grounded selama ini telah menjadi biang kerok kerugian ganda bagi maskapai pelat merah dan anak usahanya, PT Citilink Indonesia.

“Target kami adalah tahun depan semua grounded aircraft itu, semua bisa terbang. Tentu ini bertahap, ya. Ya butuh waktu, ini membenahi pesawat kan bukan 24 jam beres,” ujar Febriany lugas dalam acara Coffee Morning Session Danantara Asset Management di Jakarta, Jumat (14/11/2025).

Kerugian Ganda Membayangi Maskapai BUMN

Febriany menjelaskan secara gamblang betapa berdarah-darahnya Garuda dan Citilink akibat membiarkan armadanya ‘tertidur’ di apron bandara. Jika dibiarkan tanpa perawatan teknis lebih lanjut, beban finansial yang ditanggung kian membengkak.

“Kalau pesawat itu grounded, maskapai terkena dua kerugian sekaligus. Karena dia grounded, dia tidak menghasilkan pendapatan. Tapi di saat yang sama, biaya sewanya tetap harus dibayar dan biaya tetap lainnya juga tetap berjalan. Jadi setiap hari kita menunda maintenance, maka semakin besar ‘lubang’ (kerugian) yang harus ditutup,” tegasnya, menggunakan analogi yang mudah dipahami.

Situasi genting inilah yang membuat penyertaan modal dari Danantara wajib diarahkan secara ketat dan terukur untuk pemeliharaan armada. Meskipun angka pasti unit pesawat grounded masih perlu divalidasi, Febriany memastikan jumlahnya mencapai puluhan unit, dengan mayoritas berada di Citilink.

Berebut Slot MRO Global Pascapandemi

Upaya percepatan ini diakui Febriany bukan pekerjaan mudah. Dunia penerbangan saat ini tengah menghadapi kelangkaan kapasitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pascapandemi COVID-19.

“Saat ini di dunia juga shortage MRO. Setelah post-COVID itu semua ramai-ramai melakukan apa yang mereka tidak lakukan dua tahun sehingga kita juga berebut slot,” jelasnya, merujuk pada bottleneck global.

Untuk mengakselerasi proses, anak usaha Garuda, GMF AeroAsia, turut dilibatkan. Namun, untuk beberapa jenis perawatan mesin yang spesifik, pihak maskapai tetap harus bersabar menunggu ketersediaan slot di fasilitas MRO luar negeri.

Setelah seluruh pesawat kembali mengudara, Danantara siap melangkah ke target berikutnya: peningkatan standar layanan Garuda Indonesia.

“Kita ingin kembali layanan Garuda itu harus top notch. Harus berbeda,” ucap Febriany, mengisyaratkan ambisi untuk mengembalikan predikat layanan prima maskapai nasional.

Sebagai catatan, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Garuda Indonesia sebelumnya telah menyetujui penyertaan modal senilai Rp23,67 triliun dari Danantara. Dana segar ini dialokasikan sebagian besar untuk modal kerja (termasuk pemeliharaan pesawat) Garuda dan Citilink, serta pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina periode 2019-2021.

.

.

.

Dapatkan informasi paling update dan paling menarik seputar Bisnis dan Ekonomi di laman Google News Inilah.com.
 

Topik
Komentar