Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan rencana penutupan program studi yang tidak sesuai kebutuhan industri oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) harus dibarengi transformasi kurikulum perguruan tinggi.
Pernyataan tersebut disampaikan Arif di Jakarta, Selasa (28/4), menanggapi gagasan Mendiktisaintek Brian Yuliarto yang berencana menutup prodi tidak relevan dengan dunia kerja.
Arif mengungkap fakta mengejutkan soal kecepatan keusangan ilmu di bangku kuliah. Hanya sekitar 60 persen keterampilan yang diajarkan kepada mahasiswa di awal kuliah yang masih relevan setelah lima tahun. Artinya, saat mahasiswa lulus, sebagian besar ilmunya sudah tidak terpakai di industri.
“Kalau tidak ada transformasi kurikulum pendidikan tinggi, termasuk produk-produk pembelajaran yang relevan, maka mahasiswa akan sulit beradaptasi dengan lingkungan dan industri baru,” kata Arif.
Menurutnya, gagasan Mendiktisaintek Brian Yuliarto merupakan upaya menyelamatkan pendidikan tinggi Indonesia agar tidak tertinggal laju perkembangan industri. Tanpa sumber daya manusia andal, Indonesia berisiko kalah bersaing.
Sistem Micro-credential Mulai Dikembangkan
Arif menambahkan, sejumlah universitas kini mengembangkan sistem micro-credential, yakni pengakuan pembelajaran modular berskala kecil yang fokus pada keterampilan spesifik kebutuhan industri. Program ini umumnya dapat ditempuh dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan.
“Sekarang yang berkembang adalah micro-credential. Ini penting agar mahasiswa tetap up to date terhadap perkembangan ilmu dan teori terkini yang relevan dengan kebutuhan industri, terutama perusahaan multinasional,” ujarnya.
Ia menilai pendidikan tinggi selama ini lambat merespons kebutuhan keterampilan industri. Akibatnya, banyak perusahaan multinasional membuat program micro-credential sendiri.
Berbeda dengan gelar sarjana yang menempuh waktu empat tahun, micro-credential lebih tajam dan cepat karena menargetkan keterampilan tertentu yang langsung dipakai di dunia kerja. Bagi pekerja aktif, sertifikasi semacam ini bahkan dinilai lebih bernilai dibanding ijazah.
“Industri berkembang sangat cepat dan dunia pendidikan harus mampu beradaptasi dengan cepat serta memiliki fleksibilitas tinggi,” kata Arif.
Mentalitas Pembelajar Jadi Kunci
Selain transformasi kurikulum, Arif menekankan pendidikan tinggi wajib membentuk mentalitas pembelajar pada mahasiswa. Kampus harus mencetak generasi adaptif menghadapi perubahan cepat dan ketidakpastian.
Ia memberi contoh konkret. Seorang mahasiswa politeknik yang belajar dengan mesin motor 3 tak akan kesulitan ketika industri tak lagi memproduksi mesin tersebut.
“Kalau seseorang memiliki mentalitas pembelajar, dalam kondisi apa pun dia akan terus belajar dan beradaptasi,” ucap Arif Satria.













