Polisi melakukan olah TKP kasus bocah 10 tahun bunuh diri di Kabupaten Ngada, NTT. (Foto: Polres Ngada)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Program pendidikan pemerintah sepertinya belum sepenuhnya menjangkau anak-anak di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) secara efektif, ini terlihat dari kasus bunuh diri yang dilakukan bocah 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pengamat Pendidikan Totok Amin Soefijanto menilai kondisi tersebut membuat kelompok anak paling rentan kerap luput dari perhatian negara. Ia mempertanyakan keberlanjutan sejumlah program afirmatif pendidikan yang sebelumnya pernah digulirkan pemerintah, seperti Guru Garis Depan dan Sekolah Garis Depan.
“Di sektor pendidikan, adakah program pemerintah yang benar-benar menjangkau daerah 3T secara efektif saat ini? Kalau dulu ada Guru dan Sekolah Garis Depan, misalnya, apa kabarnya sekarang? Out of sight, out of mind,” ujar Totok kepada Inilah.com Kamis (5/2/2026).
Menurut dia, anak-anak yang hidup di wilayah terpencil dan lapisan masyarakat termiskin kerap tidak terlihat dalam sistem kebijakan. Akibatnya, nasib mereka sering kali terabaikan secara tidak sengaja oleh pengambil keputusan.
“Itu nasib anak-anak di daerah terpencil dan di lapisan masyarakat termiskin. Mereka tidak terlihat, karena itu secara tidak sengaja tak dipikirkan nasibnya,” kata dia
Totok menekankan, langkah awal yang mendesak dilakukan negara adalah memastikan administrasi kependudukan yang inklusif dan menjangkau seluruh warga, termasuk anak-anak di wilayah pelosok.
“Mulailah dengan administrasi kependudukan yang inklusif dan ekstensif, semua anak dan keluarga harus masuk dalam catatan,” tegas Totok.
Selain itu, ia menilai negara perlu memastikan keberadaan jaring pengaman sosial (JPS) yang bersifat universal dan tidak diskriminatif. Menurutnya, akses bantuan tidak boleh dibatasi hanya pada persoalan administratif semata.
Ia menegaskan, pendekatan kemanusiaan tidak bisa semata-mata didasarkan pada data statistik. Setiap nyawa manusia memiliki nilai yang tidak tergantikan.
“Kemanusiaan itu tidak dapat dihitung secara statistik. Satu nyawa manusia itu sangat berharga,” pungkasnya.
Sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT berinisial YBS mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT dan berusia 47 tahun.
Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.










