Belajar dari Atalia Praratya: Perempuan Mandiri yang Ogah Mempermasalahkan Harta Gono-Gini

syahidan.jpg

Sabtu, 20 Desember 2025 – 14:20 WIB

Mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. (Foto: Instagram/@ridwankamil)

Mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. (Foto: Instagram/@ridwankamil)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Keputusan Atalia Praratya untuk tidak menuntut pembagian harta gono-gini dalam proses perceraiannya dengan Mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil alias RK menjadi sorotan publik. Di tengah anggapan umum sengketa harta kerap menjadi babak paling rumit dalam perceraian, langkah Atalia justru menunjukkan sikap berbeda. Ia memilih mengakhiri pernikahannya tanpa memperdebatkan aset.

Langkah Atalia itu diungkap oleh Panitera Pengadilan Agama Bandung, Dede Supriadi, menegaskan Atalia tidak mengajukan tuntutan pembagian harta bersama dalam gugatan cerainya.

“Dalam gugatannya, Ibu Atalia tidak mempermasalahkan aset. Tidak ada tuntutan harta gono gini. Intinya hanya ingin berpisah,” kata Dede, Sabtu (20/12/2025). 

Secara hukum, harta gono-gini merujuk pada seluruh kekayaan yang diperoleh suami dan istri selama ikatan perkawinan berlangsung. Prinsipnya, harta tersebut menjadi milik bersama, tanpa mempersoalkan siapa yang mencari atau atas nama siapa aset didaftarkan. Namun, praktik pembagian harta bersama umumnya mencuat saat perceraian, kecuali jika salah satu pihak memilih untuk tidak menuntutnya. Sikap inilah yang diambil Atalia.

Perjalanan Pendidikan dan Karir

Keputusan tersebut kerap dikaitkan dengan kemandirian Atalia sebagai perempuan. Sejak jauh sebelum terjun ke dunia politik, Atalia telah membangun fondasi pendidikan dan karier yang kuat. Perempuan kelahiran Bandung, 20 November 1973 ini mengawali pendidikan dari SMA Negeri 5 Bandung, kemudian menempuh Diploma III Perpajakan di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. 

Ia melanjutkan studi sarjana Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, meraih gelar magister Ilmu Komunikasi di Universitas Pasundan, hingga akhirnya menyandang gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran pada 2022.

Di dunia profesional, Atalia pernah berkarya di sektor perhotelan dan keuangan, termasuk bekerja di perusahaan keuangan di Hong Kong. Kariernya berlanjut di PT Urbane Indonesia, tempat ia meniti jalan dari staf administrasi hingga Direktur Keuangan, sebelum dipercaya sebagai komisaris. Ia juga aktif di dunia akademik sebagai dosen, serta terlibat dalam berbagai organisasi sosial yang fokus pada pemberdayaan perempuan, keluarga, dan pendidikan.

Puncak kiprahnya di ruang publik terlihat saat Atalia terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Jawa Barat I melalui Partai Golkar. Di Senayan, ia bertugas di Komisi VIII DPR RI yang membidangi urusan agama, sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, serta kebencanaan.

Dengan latar belakang pendidikan tinggi, pengalaman profesional lintas sektor, dan kemandirian finansial yang terbangun sejak lama, sikap Atalia yang ogah mempermasalahkan harta gono-gini menjadi refleksi bagi sebagian perempuan, perceraian bukan soal pembagian aset, melainkan keberanian mengambil keputusan dan melangkah ke fase hidup berikutnya secara mandiri.

Langkah Atalia tersebut juga menuai beragam respons dari warganet di media sosial. Akun Instagram @maya_mama_kian menilai keputusan tersebut mencerminkan kemandirian perempuan masa kini. 

“Semakin banyak single parent yang sukses,” tulisnya.

Komentar lain datang dari akun @trila_art77 yang menyoroti pentingnya pendidikan bagi perempuan. Menurutnya, perempuan perlu memiliki bekal pendidikan agar mampu berperan optimal dalam keluarga. 

“Perempuan mau sebagai ibu, istri memang perlu berpendidikan dan harus berpendidikan, biar jadi istri yang bisa mengimbangi suami, ibu yang bisa mendidik anak-anak nya,” tulisnya.