Banyak Pemimpinnya Gugur, Mengapa Sistem Kekuasaan Iran tidak Ambruk?

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 19 Maret 2026 – 17:38 WIB

Warga Iran menyemut, membentuk lautan manusia, saat proses pemakaman di Teheran untuk pejabat keamanan tinggi, Ali Larijani. (Foto: TRTworld)

Warga Iran menyemut, membentuk lautan manusia, saat proses pemakaman di Teheran untuk pejabat keamanan tinggi, Ali Larijani. (Foto: TRTworld)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sembilan belas hari telah berlalu sejak aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan operasi militer besar-besaran ke jantung pertahanan Iran. Meski Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur di jam-jam pertama perang, disusul rontoknya deretan elit politik dan militer, pusat kekuasaan Republik Islam itu nyatanya belum menunjukkan tanda-tanda keruntuhan.

Banyak analis awalnya meramal Teheran akan lumpuh dalam hitungan hari. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Memasuki minggu ketiga, struktur kekuasaan Iran terbukti mampu melewati guncangan awal yang mematikan.

“Struktur kekuasaan Iran mampu melewati guncangan awal. Meski terpukul, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) belum lumpuh,” ujar analis Timur Tengah, Habib Hosseini-Fard, sebagaimana dilansir DW.

Strategi ‘Desentralisasi’ Jadi Kunci Perlawanan

Kekuatan Iran ternyata tidak lagi bertumpu pada satu komando pusat yang kaku. Sejak dua dekade terakhir, IRGC telah bertransformasi menjadi struktur berbasis jaringan yang sangat fleksibel. Di bawah kendali pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, sekitar 200.000 personel IRGC tetap beroperasi melalui komando tingkat provinsi yang memiliki kewenangan luas.

Kekuatan ini didukung oleh infrastruktur militer bawah tanah yang masif, termasuk silo-silo rudal yang dirancang tahan terhadap serangan udara besar-besaran. Inilah alasan mengapa Iran masih mampu meluncurkan serangan balasan meski AS mengeklaim telah menghantam 15.000 target penting di wilayah tersebut.

Eskalasi Meluas ke 12 Negara

Data dari Komando Pusat AS (CENTCOM) menunjukkan agresivitas Teheran yang tak kunjung padam. Dalam dua minggu terakhir, lebih dari 300 serangan rudal dan drone diluncurkan Iran ke berbagai negara, mulai dari Israel, Arab Saudi, Oman, hingga Bahrain dan Siprus.

Dampak serangan ini mulai memakan korban jiwa di luar zona perang utama. Otoritas Uni Emirat Arab melaporkan satu warga tewas di Abu Dhabi akibat puing rudal yang berhasil dicegat. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi telah mencegat lebih dari 60 drone di wilayah udara mereka.

Bukan Sekadar Militer, Tapi Imperium Ideologi dan Ekonomi

Analis politik Reza Talebi memperingatkan agar dunia tidak meremehkan ketahanan Iran. Menurutnya, menganggap Iran sebagai “negara gagal” yang akan menyerah begitu saja adalah kesalahan besar.

“Aktor yang digerakkan oleh ideologi di dalam aparat keamanan sangat terikat pada keberadaan sistem itu sendiri,” kata Talebi.

IRGC bukan sekadar tentara; mereka adalah gurita ekonomi yang mengendalikan konglomerasi raksasa seperti Khatam-al-Anbia. Keterlibatan organik dalam proyek infrastruktur strategis bernilai miliaran dolar membuat sistem ini sulit diruntuhkan dari luar tanpa memicu kekacauan total seperti di Suriah atau Afghanistan.

Skenario Perang Berlanjut

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah menutup pintu negosiasi. Teheran menegaskan tidak akan ada gencatan senjata selama target-target di dalam negeri mereka masih dihujani bom.

Saat ini, Iran mulai menggunakan ‘kartu as’ mereka: ketidakpastian di Selat Hormuz. Dengan mengancam jalur perdagangan minyak dunia, Teheran meningkatkan tekanan terhadap ekonomi global. Skenario yang paling mungkin saat ini bukanlah keruntuhan rezim atau gencatan senjata, melainkan perang atrisi yang terus meluas ke tingkat regional.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang