Gianluca Scamacca dari Atalanta merayakan golnya bersama rekan setimnya Giorgio Scalvini sebelum gol tersebut dianulir selama pertandingan Serie A antara Atalanta BC dan AS Roma di New Balance Arena pada 3 Januari 2026 di Bergamo, Italia. (Foto: Emmanuele Ciancaglini/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Laga Atalanta kontra AS Roma pada pekan Serie A kembali menambah daftar panjang kontroversi VAR di Italia. Pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 1-0 Atalanta di Bergamo, Sabtu (3/1/2026) malam waktu setempat, justru menyisakan kemarahan dari kedua kubu akibat dua keputusan krusial wasit dan VAR yang dinilai membingungkan.
Gol penentu kemenangan Atalanta dicetak oleh Giorgio Scalvini, yang memanfaatkan kemelut di depan gawang Roma usai sepak pojok. Kiper Roma Mile Svilar gagal mengamankan bola, sebelum Scalvini mendorong bola melewati garis gawang dari jarak dekat.
Insiden tersebut diperiksa VAR cukup lama. Namun, wasit akhirnya mengesahkan gol dengan kesimpulan bahwa tidak ada pelanggaran terhadap kiper. VAR menilai jika ada gangguan terhadap Svilar, itu justru dilakukan rekan setimnya sendiri, Devyne Rensch, bukan Scalvini. Dugaan handball juga dianulir karena bola dinilai mengenai dada, bukan tangan.
Keputusan ini memicu kemarahan pelatih Roma Gian Piero Gasperini. Ia menyebut gol tersebut sebagai keputusan yang “absurd” dan mempertanyakan kinerja VAR.
“Semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Gol ini menimbulkan keraguan serius terhadap performa VAR,” kata Gasperini kepada DAZN.
“Melihat tayang ulangnya, gol seperti ini mustahil disahkan dengan aturan yang berlaku sekarang. Ada dua alasan kuat untuk menganulirnya: sentuhan pada kiper dan handball dari pencetak gol. Ini benar-benar tidak bisa dijelaskan. Absurd.”
Svilar juga bersikeras bahwa dirinya dilanggar di kotak enam yard, meski mantan kiper legendaris Walter Zenga dalam studio Sky Sport Italia menjelaskan bahwa gangguan berasal dari Rensch, bukan Scalvini.
“Saya merasakan sentuhan di lengan dan di belakang kepala. Bagi saya, ketika kiper disentuh di kotak enam yard, itu selalu pelanggaran,” ujar Svilar.
Analis wasit DAZN Luca Marelli menyebut insiden ini sebagai “wilayah abu-abu klasik”. Ia menilai Svilar memang terhalang oleh Rensch, tetapi Scalvini juga terlihat meletakkan kedua tangannya di wajah kiper sebelum mencetak gol. “Saya pribadi akan menganulir gol itu. Tidak ada handball, tapi tetap ada alasan pelanggaran,” ujarnya.
Ironisnya, Atalanta juga merasa dirugikan. Gol kedua mereka yang dicetak Gianluca Scamacca dianulir setelah VAR menganggap sang striker berada dalam posisi offside aktif. Setelah peninjauan panjang dan on-field review, wasit memutuskan Scamacca mengambil keuntungan dari posisi offside.
Pelatih Atalanta Raffaele Palladino mengaku tidak memahami keputusan tersebut. Menurutnya, Scamacca tidak merebut bola dari lawan. Bola justru jatuh ke kakinya setelah bek Roma Mario Hermoso melakukan sentuhan buruk.
Namun Marelli tetap berpendapat gol itu layak dianulir karena Scamacca dianggap aktif terlibat dalam proses gol dari posisi offside. Pandangan ini berseberangan dengan para pundit Sky Sport Italia yang menilai keputusan wasit terlalu dipaksakan.
Pertandingan Atalanta vs Roma pun berubah menjadi simbol terbaru kekacauan interpretasi VAR di Serie A. Kedua tim sama-sama menang di papan skor versi mereka sendiri, tetapi pulang dengan kemarahan yang sama terhadap wasit. Di tengah teknologi yang seharusnya membawa kejelasan, sepak bola Italia kembali terjebak dalam perdebatan panjang soal konsistensi dan tafsir aturan.










