Anak SD Bunuh Diri karena Kemiskinan, Pengamat: Negara Kemana Saja?

Reyhaanah Medium.jpeg

Kamis, 5 Februari 2026 – 12:50 WIB

Seusai olah tempat terjadinya perkara atas kematian YBS (10). Korban diduga bunuh diri pada Kamis (29/1/2026). YBS merupakan siswa kelas IV salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Polres Ngada)

Seusai olah tempat terjadinya perkara atas kematian YBS (10). Korban diduga bunuh diri pada Kamis (29/1/2026). YBS merupakan siswa kelas IV salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Polres Ngada)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengamat Pendidikan, Totok Amin Soefijanto, menyoroti tajam kasus bunuh diri seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyebut peristiwa ini bukan sekadar tragedi personal, melainkan musibah kemanusiaan yang memukul rasa keadilan sosial bangsa.

Totok menegaskan, tanggung jawab terbesar atas hilangnya nyawa anak bangsa karena himpitan ekonomi ini berada di pundak penyelenggara negara.

“Negara harus hadir dan memastikan kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, karena tugas negara dan pemerintah lah mencegah kejadian seperti ini,” ujar Totok saat dihubungi Inilah.com, Kamis (5/2/2026).

Menurut Totok, di era keterbukaan informasi saat ini, pemerintah tidak lagi memiliki alasan untuk “keciplongan” atau abai terhadap kasus kemanusiaan di daerah. Jika di masa lalu banyak persoalan luput karena minim sorotan, kini teknologi dan media sosial telah membuka mata publik lebar-lebar.

Kritik Resentralisasi dan Solusi Jejaring Lokal

Dalam pandangannya, Totok juga mengkritik kebijakan resentralisasi yang menarik banyak urusan dan anggaran kembali ke pemerintah pusat. Hal ini dinilai melemahkan daya respons pemerintah daerah dalam menangani persoalan sosial yang mendesak di wilayahnya.

Sebagai solusi, Totok tidak hanya menuntut kerja sama pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga mendorong pengaktifan kembali jejaring sosial di tingkat akar rumput.

“Pemerintah pusat dan daerah harus menjalin kerja sama yang baik. Itu saja tidak cukup, semua aparat pemerintah harus bergandengan tangan dengan jejaring non-pemerintah yang bisa menjangkau masyarakat di lapisan bawah,” tegasnya.

Ia menyebut organ-organ seperti PKK, penyuluh lapangan, dan komunitas lokal memiliki kedekatan lebih intim dengan warga dibanding birokrasi kaku, sehingga mampu mendeteksi kerawanan sosial lebih dini.

“Dalam kasus ini hendaknya semua bertekad, ini yang pertama dan terakhir,” pungkas Totok.

Latar Belakang Peristiwa

Sebelumnya diberitakan, YBS/YBR, siswa kelas IV SD di Ngada, ditemukan tewas gantung diri setelah meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya, MGT (47). Surat itu berisi permintaan maaf dan pamit karena ia merasa membebani ibunya yang tak mampu membelikan buku dan pena.

Korban diketahui tinggal bersama neneknya untuk meringankan beban sang ibu yang merupakan orang tua tunggal (janda), bekerja sebagai petani serabutan, dan harus menghidupi lima orang anak.