Kasus kekerasan di Daycare Little Aresha beberapa waktu lalu menjadi alarm keras bagi banyak orang tua. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak justru berubah menjadi lokasi terjadinya kekerasan.
Peristiwa ini memperlihatkan satu kenyataan penting: pengasuhan anak di era modern semakin rumit dan tidak lagi dapat dibebankan sepenuhnya kepada keluarga.
Bagi keluarga perkotaan, terutama pasangan suami istri yang sama-sama bekerja, persoalan pengasuhan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak.
Ketika kedua orang tua harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat, pertanyaan paling mendasar pun muncul: di mana tempat yang benar-benar aman bagi anak-anak mereka selama orang tua bekerja?
Pada titik inilah negara seharusnya hadir. Menjamin ruang tumbuh yang aman bagi anak bukan sekadar urusan domestik keluarga, tetapi bagian dari tanggung jawab konstitusional negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun realitas menunjukkan bahwa layanan pengasuhan anak, terutama daycare, masih lebih banyak bergerak dalam logika pasar dibanding perlindungan anak.
Daycare dan Logika Komersialisasi Pengasuhan
Selama ini, banyak daycare tumbuh sebagai respons atas kebutuhan masyarakat urban. Ada permintaan besar, lalu hadir layanan penitipan anak sebagai jawaban. Dalam mekanisme pasar, hubungan itu sederhana: orang tua membayar, penyedia jasa memberikan layanan pengasuhan.
Masalahnya, pengasuhan anak tidak bisa diperlakukan seperti transaksi jasa biasa. Anak bukan sekadar “titipan” yang dijaga selama beberapa jam hingga orang tua pulang bekerja. Pengasuhan menyangkut perkembangan fisik, psikologis, emosional, dan sosial anak pada masa paling penting dalam hidupnya.
Sayangnya, tidak semua daycare memahami hal tersebut. Banyak pengasuh bekerja dengan upah rendah, minim pelatihan, dan tanpa standar pengawasan yang memadai. Dalam kondisi seperti itu, kualitas pengasuhan mudah terabaikan. Anak akhirnya hanya diposisikan sebagai objek layanan, bukan individu yang harus tumbuh dalam lingkungan yang aman dan sehat.
Yang lebih mengkhawatirkan, pengawasan pemerintah daerah terhadap layanan daycare masih sangat lemah. Mulai dari persoalan izin, standar operasional, hingga kompetensi pengasuh sering kali belum menjadi perhatian serius. Bahkan sejumlah taman kanak-kanak mulai membuka layanan daycare karena tingginya permintaan, padahal belum tentu memiliki kesiapan dan standar pengasuhan yang memadai.
Tekanan Ekonomi dan Rumitnya Pengasuhan
Dilema pengasuhan hari ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi keluarga perkotaan. Dalam banyak rumah tangga, penghasilan satu orang tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Akibatnya, ayah dan ibu bekerja menjadi pilihan yang dianggap paling rasional.
Penelitian Rand Conger menunjukkan bahwa tekanan ekonomi sering berkaitan dengan meningkatnya risiko konflik rumah tangga hingga perceraian. Karena itu, bekerja bagi kedua orang tua bukan sekadar pilihan gaya hidup, tetapi strategi bertahan hidup.
Namun ketika kedua orang tua bekerja, kebutuhan terhadap sistem pendukung pengasuhan menjadi tidak terhindarkan. Persoalannya, tidak semua keluarga memiliki pilihan yang sama. Keluarga dengan kondisi ekonomi lebih baik masih dapat mencari pengasuh pribadi atau daycare berkualitas. Sebaliknya, keluarga dengan keterbatasan ekonomi sering kali harus memilih layanan seadanya.
Di masa lalu, masyarakat mengenal pola alloparenting, yakni pengasuhan berbasis dukungan keluarga besar dan lingkungan sekitar. Anak diasuh bersama oleh kakek-nenek, kerabat, atau tetangga. Namun pola ini semakin sulit dijalankan di kota-kota besar ketika hubungan sosial antarwarga menjadi semakin renggang.
Akibatnya, pengasuhan semakin menjadi beban individual keluarga, padahal kompleksitasnya terus meningkat.
Negara Tidak Bisa Hanya Menjadi Penonton
Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa layanan pengasuhan anak tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar. Di Kanada, pemerintah memberikan dukungan pendanaan dan subsidi daycare agar layanan tetap terjangkau dan berkualitas. Sementara di Swedia, daycare bahkan dikembangkan menjadi bagian integral dari sistem pendidikan anak usia dini yang terstruktur.
Indonesia memang memiliki tantangan fiskal dan kapasitas daerah yang berbeda-beda. Namun, itu tidak bisa menjadi alasan untuk membiarkan layanan pengasuhan berjalan tanpa arah dan pengawasan. Negara perlu membangun regulasi yang jelas, standar pengasuhan yang ketat, serta sistem pengawasan yang benar-benar berjalan.
Lebih jauh, layanan daycare tidak boleh hanya dipandang sebagai bisnis penitipan anak. Ia harus diposisikan sebagai bagian dari investasi sosial jangka panjang. Kesalahan pengasuhan pada usia dini dapat meninggalkan dampak psikologis dan sosial yang panjang terhadap perkembangan anak di masa depan.
Pengasuhan Adalah Urusan Masa Depan Bangsa
Pada akhirnya, persoalan daycare bukan sekadar isu layanan penitipan anak, tetapi persoalan tentang bagaimana negara memandang masa depan generasinya sendiri. Anak-anak yang hari ini tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan, pengabaian, atau pengasuhan yang buruk akan membawa dampak itu hingga dewasa.
Karena itu, pengasuhan tidak boleh dipandang sebagai urusan privat semata. Negara harus hadir memastikan setiap anak memiliki ruang tumbuh yang aman, sehat, dan manusiawi. Sebab kualitas sebuah bangsa pada akhirnya sangat ditentukan oleh bagaimana ia memperlakukan anak-anaknya sejak usia dini.













