Penerapan aturan Indonesia Game Rating System (IGRS) gagasan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di platform Steam pada bulan April ini menuai kritik tajam. Media dan komunitas gim lokal, DirektoriGim, merilis sebuah editorial kritis yang menyoroti betapa kacaunya standar parameter klasifikasi yang dapat berujung pada pemblokiran massal.
Melalui utas di platform X (sebelumnya Twitter) yang diunggah pada Minggu (5/4/2026), DirektoriGim membeberkan sejumlah anomali fatal dalam sistem kurasi IGRS.
Menurut artikel yang ditulis oleh Raden Dimas Erlangga tersebut, ketiadaan kategori batas usia Adult Only (Khusus Dewasa) dalam IGRS membuat banyak gim populer langsung dijatuhi status Refused Classification (RC) alias ditolak distribusinya. Judul-judul besar AAA seperti Persona 5, Clair Obscur: Expedition 33, hingga Metaphor: ReFantazio secara mengejutkan masuk dalam daftar hitam penolakan ini.
“Sangat konyol melihat game bernarasi kritik politik sekelas Metaphor: ReFantazio dicekik dengan status penolakan maksimal. Fokus utamanya justru pada kritik pemerintahan, mengeksplorasi bagaimana ketakutan dan misinformasi bisa memanipulasi proses demokrasi,” tulis DirektoriGim dalam editorialnya.
Anomali Parameter yang Rusak
Kekacauan standar ini semakin terlihat ketika membandingkan gim yang ditolak dengan gim yang diloloskan. DirektoriGim menyoroti bahwa gim bermuatan kekerasan brutal dan penuh darah berceceran seperti Doom Eternal, serta gim eroge dengan visualisasi seksual eksplisit seperti Nukitashi, justru melenggang bebas dengan rating 3+ (untuk anak balita).
Di sisi lain, gim panjat tebing dengan visual kartun yang bersih dari konten vulgar bernama PEAK justru diganjar rating 18+. Fakta ini memperkuat argumen komunitas bahwa sistem kurasi berbasis deklarasi tersebut telah rusak.
Skenario Terburuk: Mengulang Tragedi Jerman 2024
Lebih lanjut, DirektoriGim memperingatkan bahaya nyata dari kebijakan administratif ini yang berpotensi memicu efek domino. Meskipun pihak IGRS pada ajang IGDX 2025 lalu sempat menyatakan bahwa pengembang (developer) diizinkan untuk mengubah konten dan melakukan penilaian ulang untuk gim berstatus RC, solusi tersebut dinilai naif untuk skala industri global.
Memotong, mengedit, atau merombak total sebuah gim khusus hanya untuk pasar Indonesia memakan biaya dan waktu yang sangat besar. Akibatnya, penerbit raksasa global berpotensi melihat Indonesia sebagai pasar yang tidak layak (not viable) dipertahankan.
DirektoriGim berkaca pada insiden di Jerman pada 15 November 2024 silam, di mana sekitar 23 ribu gim mendadak lenyap dari etalase Steam murni karena masalah kepatuhan terhadap regulasi administratif rating usia yang baru, bukan karena pemblokiran konten spesifik.
“Jika regulasi yang ada hanya menciptakan kebingungan, mengancam ketersediaan puluhan ribu game di Steam, dan membuat publisher enggan melirik pasar lokal, maka sistem ini lebih baik ditiadakan sama sekali daripada terus-terusan mempersulit komunitas gamer di Indonesia,” tutup editorial tersebut.













