Akankah Rupiah ‘Perkasa’ di Bawah Rp17.000/US$, Inilah Prediksi Analis Pekan Depan

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 26 April 2026 – 04:09 WIB

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026) melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.143 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.127 per dolar AS. (Foto: Shutterstock)

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026) melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.143 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.127 per dolar AS. (Foto: Shutterstock)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat (24/4) menjadi Rp17.229/US$. Ketidakpastian global yang dipicu geopolitik Timur Tengah masih cukup tinggi. Mungkinkan rupiah rebound ke level Rp16.000/US$ lagi?  

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut penguatan mata uang Garuda di akhir pekan itu masih dibayangi ketegangan geopolitik AS dengan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. “Isu geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah, terutama terkait konflik AS-Iran yang berpotensi berkepanjangan,” ujar Ibrahim, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Meski sempat menguat 57 poin ke level Rp17.229/US$, rupiah sebelumnya sempat melemah 10 poin dibandingkan penutupan di Rp17.286/US$. Ketegangan meningkat setelah muncul laporan bahwa negosiator utama Iran dalam pembicaraan dengan AS mengundurkan diri.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran, sekaligus menegaskan sikap keras terhadap isu nuklir. Alhasil, kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global melonjak, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini, lanjut Ibrahim, mendorong lonjakan harga minyak global hingga menembus level di atas US$100 per barel, sehingga meningkatkan permintaan dolar AS dari negara importir energi, termasuk Indonesia. “Indonesia sebagai net importir minyak akan membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk impor energi, sehingga secara langsung menekan nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Dari dalam negeri, menurut Ibrahim, pelaku pasar menilai potensi inflasi cukup besar akibat kenaikan harga energi global. Meski demikian, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi APBN 2026 masih cukup kuat dalam meredam gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Untuk perdagangan awal pekan depan, Ibrahim meramalkan pergerakan rupiah masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.220 hingga Rp17.260 per dolar AS. Sementara dalam sepekan, rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.180 hingga Rp17.400 per dolar AS.

Anggaran Sangat Memadai

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, kembali menegaskan bahwa keuangan negara masih memadai. Ia bahkan menyebut dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp420 triliun.

Pernyataan itu sekaligus membantah rumor yang menyebut SAL pemerintah hanya tersisa Rp120 triliun. “Nggak usah takut soal APBN, masih cukup. Uang kita masih banyak,” kata Purbaya di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Purbaya menjelaskan, dana Rp120 triliun yang disimpan di brankas Bank Indonesia (BI) merupakan bagian dari total SAL sebesar Rp420 triliun. Sebesar Rp300 triliun digunakan untuk suntikan likuiditas perbankan sebagai modal untuk mengakselerasi aktivitas perekonomian.

Injeksi dana tersebut bertujuan mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional melalui fungsi intermediasi perbankan. Penempatan dana itu bersifat deposito on call, sehingga dapat ditarik pemerintah sewaktu-waktu saat dibutuhkan.

“Dulu biasanya ditaruh di BI, sekarang harusnya masuk ke ekonomi. Itu yang menunjang pertumbuhan ekonomi selama beberapa bulan terakhir. Tapi uangnya nggak habis, masih deposito saya. Itu langkah yang pintar (smart move) sebetulnya,” tutur Purbaya.

Dari sisi APBN, hingga akhir Maret 2026, penerimaan negara tercatat Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara year on year (yoy). Lonjakan ini ditopang pertumbuhan setoran pajak sebesar 20,7 persen (yoy).

Sementara belanja pemerintah tumbuh 31,4 persen (yoy), dengan defisit APBN terjaga di level 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). “APBN tetap solid dan mampu menjadi peredam gejolak (shock absorber) di tengah ketidakpastian geopolitik global,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang