Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Jumat (21/11/2025) (Foto: ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan akan berangkat ke Amerika Serikat pada pekan depan untuk merampungkan negosiasi tarif impor. Sebelumnya, ia telah melakukan pertemuan daring dengan United States Trade Representative (USTR) Ambassador Jamieson Greer, Kamis (11/12/2025).
“Tim akan berangkat minggu depan. Dan akan memfinalisasi sesuai dengan joint statement yang tertanggal 22 Juli. Saya akan berangkat juga,” ujar Airlangga kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Airlangga menargetkan penyelesaian tarif impor rampung pada akhir 2025 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan kesepakatan dagang ini akan mengedepankan kepentingan bersama kedua negara.
“Harapannya sampai dengan akhir tahun ini apa yang sudah diperjanjikan oleh kedua pemimpin, yaitu Presiden Prabowo dan Presiden Trump, bisa dituangkan di dalam draft agreement. Tadi pagi saya juga sudah melaporkan ke Bapak Presiden mengenai hasil pembicaraan tadi malam dan ini adalah satu hal yang sangat positif karena Indonesia merupakan negara ketiga yang sudah sepakat dengan Amerika Serikat. Jadi Amerika mengapresiasi Indonesia,” tambahnya.
Dalam kesepakatan dengan AS, sejumlah komoditas Indonesia yang tidak diproduksi di Negeri Paman Sam akan mendapatkan tarif 0 persen, antara lain minyak sawit mentah (CPO), karet, teh, kopi, serta produk karet lainnya. Sementara tarif untuk tekstil dan alas kaki masih dalam tahap pembahasan.
Adapun tarif AS untuk Indonesia telah diturunkan menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen.
Sebagai bagian dari paket negosiasi, Indonesia juga berkomitmen menambah impor dari AS untuk menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara. Indonesia menargetkan impor energi dari AS hingga 15 miliar dolar AS, serta impor produk pertanian senilai 4,5 miliar dolar AS.
Di sektor investasi, kesepakatan mencakup pembangunan fasilitas blue ammonia di AS dengan nilai mencapai 10 miliar dolar AS, serta investasi tambahan untuk proyek-proyek di Indonesia.











