Dokter Tifa Ungkap Teknologi mRNA pada Vaksin: Bekerja dengan Instruksi Genetik

Clara Medium.jpeg

Minggu, 30 Agustus 2026 – 16:25 WIB

Dokter Tifa (hijab merah) dalam acara 'Kontroversi Vaksin Ikhtiar Sains atau Melawan Takdir', di Mangkuluhur Artotel, Jakarta, Minggu (30/8/2026). (Foto: Inilah.com/Clara Anna).

Dokter Tifa (hijab merah) dalam acara ‘Kontroversi Vaksin Ikhtiar Sains atau Melawan Takdir’, di Mangkuluhur Artotel, Jakarta, Minggu (30/8/2026). (Foto: Inilah.com/Clara Anna).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Dokter Tifauzia Tyassuma, yang akrab disapa Dokter Tifa, menjelaskan teknologi yang digunakan dalam sejumlah vaksin modern, termasuk vaksin berbasis mRNA. Menurutnya, teknologi tersebut bekerja dengan memasukkan instruksi genetik ke dalam tubuh untuk mengarahkan sel menghasilkan protein tertentu.

“Jadi sekarang ini vaksin yang disebut vaksin atau platform biologi tersebut itu eranya menggunakan mRNA berbasis teknologi,” ujar Dokter Tifa dalam acara ‘Kontroversi Vaksin Ikhtiar Sains atau Melawan Takdir’, di Mangkuluhur Artotel, Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Dia menjelaskan, mRNA pada dasarnya merupakan rangkaian instruksi genetik yang memberikan sinyal kepada sel tubuh untuk melakukan proses tertentu. Instruksi tersebut dapat mengarahkan sel untuk menghasilkan protein sesuai dengan kode genetik yang dibawa.

“mRNA itu adalah serangkaian instruksi genetik yang masuk dalam tubuh manusia dan kemudian mengajarkan sel. Platform tersebut atau mRNA memberi sinyal kode genetik untuk melakukan sesuatu agar tubuh melakukan sesuatu, misalnya membentuk protein,” kata dia.

Lebih lanjut, Dokter Tifa mencontohkan penggunaan teknologi mRNA pada vaksin COVID-19. Menurutnya, materi mRNA diberikan ke dalam tubuh dengan bantuan lipid nanoparticle atau partikel nano berbasis lipid.

Namun, dia menggambarkan mekanisme tersebut dengan menyebut tubuh seolah-olah diarahkan untuk membuat bagian tertentu yang menyerupai virus COVID-19. Bagian tersebut kemudian diharapkan memicu respons sistem kekebalan tubuh sehingga menghasilkan antibodi untuk melawan virus.

“Misalnya waktu vaksin COVID yang berbasis mRNA, instruksinya masuk ke dalam tubuh dengan menggunakan lipid nanoparticle. Instruksinya berisikan buatlah sesuatu seperti virus COVID, maka tubuh manusia membuat protein yang kemudian diharapkan dengan adanya itu di dalam tubuh manusia, manusia akan menghasilkan antibodi untuk melawan,” jelasnya.

Namun, Dokter Tifa menyatakan perkembangan teknologi tersebut perlu diwaspadai, terutama seiring dengan semakin pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

“Sekarang ini di tahun 2026, di abad ke-21 ini, artificial intelligence sudah mendekati era singularity,” katanya.

Dia menilai perkembangan AI dan teknologi berbasis mRNA berpotensi menciptakan perkembangan teknologi yang jauh melampaui perkiraan manusia sebelumnya.

“Teknologi ini kapasitasnya akan melampaui dari apa yang pernah dibayangkan oleh siapapun sebelumnya, bahkan oleh penemunya sekalipun,” tuturnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang