Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Kamrussamad. (Foto: Dok DPR RI).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Beberapa waktu lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan II-2026 sebesar 5,29 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Capaian tertinggi sejak triwulan II-2022. Dan, menjadi salah satu yang tertinggi di kalangan G-20.
“Bila diakumulasikan, pertumbuhan ekonomi di semester I-2026 mencapai 5,45 persen. Masih lebih tinggi dibanding target yang ditetapkan APBN 2026 sebesar 5,4 persen,” beber Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Laju pertumbuhan ekonomi yang kuat, kata dia, didukung hampir semua komponen. Dari sisi produksi, terdapat lima sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap ekonomi yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.
“Adapun tiga sektor yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu pengadaan listrik dan gas, penyediaan akomodasi dan mamin (makanan dan minuman), serta informasi dan komunikasi,” imbuhnya.
Sedangkan dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) atau investasi, tercatat sebagai komponen yang memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi, mencapai 82,68 persen.
Adapun komponen yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah konsumsi pemerintah, mencapai 15,97 persen yang didorong peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa.
“Laju pertumbuhan ekonomi yang solid ini mengandung sejumlah implikasi penting bagi perekonomian nasional,” juru bicara Partai Gerindra itu.
Misalnya, kebijakan ekonomi pemerintah sudah berjalan di jalur yang tepat. Dibuktikan dengan keberhasilannya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh tinggi, di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya eskalasi geopolitik yang mengerek harga minyak dunia.
“Membuktikan, sejumlah program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Nelayan Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Unggulan, serta sejumlah program lainnya, berhasil bertindak sebagai penggerak roda ekonomi (multiplier effect),” tandasnya.
Ditegaskan, APBN 2026 telah bekerja optimal dalam mendorong optimalisasi program strategis pemerintah. Hingga paruh pertama 2026, realisasi belanja negara mencapai Rp1.656 triliun, atau setara 43,1 persen terhadap pagu APBN.
Tingginya belanja negara ini, diikuti kuatnya penerimaan negara yang mencapai Rp1.459,4 triliun, atau 46,3 persen terhadap pagu APBN. Sehingga, angka defisit anggaran terkendali hanya Rp196,5 triliun, atau 0,76 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto).
Permintaan Domestik Masih Oke
Pada Rabu (5/8/2026), Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud mengumumkan, perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) di triwulan II-2026, tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy), atau dibandingkan triwulan II-2025.
Di mana, nilai PDB atas dasar harga konstan di triwulan II-2026 tercatat sebesar Rp3.576,2 triliun. Sedangkan nilai PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi di triwulan II-2026, ditopang industri pengolahan, perdagangan, serta informasi dan komunikasi. Pertumbuhan ketiga sektor itu, didorong meningkatnya aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik.
Sektor yang mencatat pertumbuhan tertinggi adalah pengadaan listrik dan gas, sebesar 10,81 persen secara yoy. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya penjualan listrik di hampir seluruh segmen pelanggan, terutama rumah tangga, bisnis, dan industri.
Sementara itu, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi terutama disumbang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. “Hal ini didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat seiring momentum hari libur dan hari besar keagamaan, serta meningkatnya investasi,” ujar Edy.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












