Kota Tanpa Angkot di Kalimantan Timur

Pagi di Balikpapan tak pernah benar-benar riuh oleh teriakan kernet. Tak ada suara khas, “kampus… kampus… naik!” yang biasa jadi latar kota-kota lain di Indonesia. Jalanan relatif rapi, kendaraan mengalir tanpa banyak yang berhenti mendadak. Di kota ini, angkot seperti cerita lama yang perlahan hilang dari ingatan.

Di simpang lampu merah kawasan Damai, Rufai (47) berdiri di pinggir jalan, menunggu ojek online yang dipesannya lewat ponsel. Ia tak pernah benar-benar mengandalkan angkot untuk beraktivitas.

“Dulu sempat ada mikrolet, tapi sekarang susah dicari. Orang di sini lebih pilih motor atau ojek online,” kata Rufai pada inilah.com.

Balikpapan memang berbeda. Di banyak kota, angkot adalah urat nadi mobilitas warga kelas menengah ke bawah. Namun di sini, denyut itu melemah, tergantikan oleh kendaraan pribadi, ojek, dan layanan transportasi daring.

Data transportasi menunjukkan, selain angkutan dalam trayek seperti bus dan angkutan kota, mobilitas warga juga ditopang oleh ojek konvensional, ojek online, dan taksi.

Fenomena ini membentuk wajah kota yang unik: mobilitas tetap berjalan, tapi tanpa “warna-warni” angkot.

Kota yang Tidak Bergantung pada Angkot

Bagi Anas (32), pekerja swasta yang tinggal di Balikpapan Selatan, absennya angkot bukan masalah, justru dianggap keunggulan.

“Lebih enak begini. Jalanan nggak semrawut. Kalau butuh cepat, tinggal pesan ojek,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran transportasi online membuat masyarakat tidak lagi bergantung pada angkutan kota konvensional. Waktu tempuh bisa diprediksi, tanpa harus menunggu lama di pinggir jalan.

Hal senada diungkapkan Anun (28), pegawai toko di kawasan Sepinggan. Ia mengaku hampir tidak pernah naik angkot selama tinggal di Balikpapan.

“Kalau nggak punya kendaraan, ya naik ojek. Lebih pasti sampai tujuan. Nggak ngetem-ngetem,” katanya.

Pilihan itu menggambarkan perubahan pola mobilitas. Ketika di kota lain warga terbiasa “menyesuaikan diri” dengan trayek angkot, di Balikpapan justru transportasi yang menyesuaikan dengan kebutuhan warga.

Namun, di balik kemudahan itu, ada konsekuensi yang tak selalu terlihat.

Ketergantungan pada kendaraan pribadi dan ojek online membuat biaya transportasi menjadi lebih mahal bagi sebagian warga. Tidak semua orang punya pilihan yang sama.

Rufai mengaku, biaya ojek online sering terasa berat jika digunakan setiap hari. “Kalau sekali dua kali masih oke. Tapi kalau tiap hari, lumayan juga,” ujarnya.

Di sisi lain, sistem transportasi massal seperti bus kota mulai diperkenalkan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Layanan seperti Balikpapan City Trans hadir sebagai alternatif, meski belum sepenuhnya menjangkau semua wilayah.

Kota Tertib Tanpa Angkot

Minimnya angkot juga berpengaruh pada wajah kota. Tidak ada kendaraan yang berhenti sembarangan atau menunggu penumpang terlalu lama di bahu jalan. Lalu lintas terasa lebih tertib dibanding kota-kota besar lain.

Namun, keteraturan itu datang dengan harga, yakni hilangnya satu elemen khas kehidupan urban Indonesia.

Angkot bukan sekadar alat transportasi, tapi juga ruang sosial, tempat orang bertemu, berbincang, bahkan berbagi cerita singkat di perjalanan. Di Balikpapan, ruang itu perlahan digantikan oleh perjalanan yang lebih privat, lebih cepat, tapi juga lebih sunyi

Bergerak dengan Cara Sendiri

Balikpapan mungkin bukan sepenuhnya kota tanpa angkot. Tapi di jalan-jalannya, peran itu kian mengecil, hampir tak terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kota ini memilih jalannya sendiri, lebih modern, lebih tertib, tapi juga berbeda dari wajah transportasi kebanyakan kota di Indonesia.

Di tengah perubahan besar sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara, satu hal sudah terlihat jelas, Balikpapan bergerak, tanpa harus bergantung pada angkot.