Selama ini, kekhawatiran soal kandungan BPA dalam kemasan air minum lebih banyak dikaitkan dengan risiko kanker atau gangguan hormonal.
Tapi sebuah riset terbaru dari Universitas Airlangga (Unair) membuka sudut pandang baru yang belum banyak dibicarakan, yaitu dampak BPA terhadap sistem kekebalan tubuh, khususnya kaitannya dengan munculnya alergi.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal AIMS Environmental Science edisi 2025 oleh tim peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair.
Kesimpulannya cukup mengejutkan: ada korelasi yang signifikan secara statistik antara konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) yang mengandung Bisphenol A atau BPA dengan meningkatnya risiko riwayat alergi dan hipersensitivitas pada orang dewasa.
BPA, atau Bisphenol A, adalah bahan kimia industri yang sudah lama digunakan dalam proses pembuatan plastik keras jenis polikarbonat. Salah satu produk yang paling umum menggunakannya adalah galon air minum isi ulang, yang hampir ada di setiap rumah tangga Indonesia.
Seiring waktu, terutama ketika galon terpapar panas, goresan berulang, atau digunakan dalam jangka sangat panjang, senyawa ini bisa terlepas ke dalam air dan masuk ke tubuh saat dikonsumsi.
Yang Ditemukan Riset Unair
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tambak Wedi, Surabaya, dengan melibatkan 96 orang dewasa sebagai responden. Rata-rata, mereka mengonsumsi sekitar dua liter air per hari selama kurang lebih 31 tahun, gambaran yang cukup mewakili kebiasaan konsumsi masyarakat urban Indonesia.
Tim peneliti juga menguji sampel dari 10 merek air kemasan galon yang beredar di pasaran. Hasilnya, seluruh merek yang diuji terdeteksi mengandung BPA. Kadar tertinggi yang ditemukan mencapai 0,099 µg/L, angka yang secara teknis masih berada di bawah ambang batas regulasi yang berlaku.
Tapi justru di situlah yang menarik. Meski kadar BPA dalam sampel belum melampaui batas aman, penelitian ini tetap mencatat adanya korelasi positif dengan gangguan imunosupresi, khususnya riwayat hipersensitivitas atau alergi pada para responden.
Bagaimana BPA Bisa Memicu Alergi?
Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unair Dr. Sudarmaji, S.KM., M.Kes., sekaligus anggota tim riset, menjelaskan mekanisme biologis di balik temuan tersebut.
“Secara biologis, BPA diduga dapat meningkatkan stres oksidatif dan memicu proses inflamasi. Akibatnya, pada individu tertentu, respons imun dapat menjadi tidak seimbang sehingga lebih mudah muncul reaksi hipersensitivitas atau alergi,” paparnya, Jakarta, Jumat (31/07/2026).
Sudarmaji menambahkan bahwa faktor waktu menjadi kunci penting dalam memahami risiko ini. “Rata-rata responden mengonsumsi sekitar dua liter air per hari dengan durasi konsumsi sekitar 31 tahun. Pajanan kumulatif jangka panjang tetap perlu menjadi perhatian,” tegasnya.
Namun, tidak semua orang berisiko sama. Menurut tim peneliti Unair, kelompok yang paling rentan terhadap efek imunotoksik BPA adalah janin, bayi, anak-anak, ibu hamil, serta individu yang sistem imunnya belum matang atau sedang mengalami gangguan.
Artinya, jika di rumah ada balita, anak kecil, atau ibu yang sedang hamil, perhatian terhadap sumber air minum yang dikonsumsi sehari-hari menjadi semakin relevan.
Bukan Temuan Pertama, tapi Tetap Penting
Sudarmaji menegaskan temuan timnya bukan muncul dari ruang hampa. Selama lebih dari satu dekade, berbagai penelitian eksperimental dan epidemiologi di berbagai negara sudah melaporkan potensi BPA dalam mempengaruhi sistem imun.
“Hasil penelitian kami menjadi tambahan bukti ilmiah, khususnya dari Indonesia, bahwa pajanan BPA melalui air minum dalam kemasan layak terus dipantau sebagai isu kesehatan lingkungan,” ujarnya.
Yang membuat riset Unair ini punya nilai tersendiri adalah konteksnya: data dari Indonesia, dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia, dan dengan merek-merek yang beredar di pasar Indonesia. Artinya, temuannya lebih dekat dengan realita keseharian kita dibandingkan penelitian serupa dari negara lain.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
“Temuan ini menjadi sinyal ilmiah bahwa pajanan BPA tetap perlu dikendalikan, terutama melalui pengawasan mutu kemasan pangan, edukasi masyarakat, dan penelitian lanjutan,” tutupnya.
Ini adalah pengingat bahwa apa yang kita konsumsi setiap hari, dalam jumlah kecil sekalipun, bisa meninggalkan jejak yang tidak selalu langsung terasa.













