Ganti Nahkoda BI Belum Tentu Selamatkan Rupiah dari Tekanan

Clara Medium.jpeg

Senin, 27 Juli 2026 – 11:49 WIB

Pengamat menilai pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) tidak serta-merta mampu mengangkat nilai tukar rupiah. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Pengamat menilai pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) tidak serta-merta mampu mengangkat nilai tukar rupiah. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pergantian pucuk kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) dinilai tidak serta-merta menjadi obat mujarab untuk mendongkrak nilai tukar rupiah. Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut siapa pun sosok yang bakal memimpin bank sentral akan berhadapan dengan tembok tantangan berat yang sama.

Langkah rupiah memang masih gontai. Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (27/7/2026), mata uang Garuda langsung melorot ke posisi Rp17.960 per dolar AS. Rupiah terdepresiasi sebesar 0,14 persen, melanjutkan tren negatif dari penutupan akhir pekan lalu, Jumat (24/7/2026), yang melemah 0,25 persen di level Rp17.935 per dolar AS.

“Siapa pun yang memimpin Bank Indonesia saat ini sangat sulit membuat rupiah kembali menguat. Sebab masalah geopolitik ada, lalu perekonomian di dalam negeri pun sedang carut-marut. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim kepada wartawan di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Apresiasi untuk Kerja Keras Perry Warjiyo

Ibrahim menilai, sebelum Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri dari kursi Gubernur BI, pimpinan bank sentral tersebut sejatinya telah berupaya keras meredam guncangan demi memproteksi nilai tukar. Namun, derasnya tekanan global membuat rupiah tetap sukar membumbung tinggi.

“Pak Perry sudah bekerja keras menahan agar rupiah kembali menguat, tetapi sampai saat ini belum bisa mengangkat nilai tukar rupiah,” katanya.

Menurut Ibrahim, eskalasi ketidakpastian ekonomi global masih menjadi biang kerok utama yang menggerogoti keperkasaan rupiah. Gejolak geopolitik yang terus membara di kawasan Timur Tengah memaksa para investor mengamankan modalnya ke aset-aset safe haven, sehingga menghantam mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tantangan Fiskal dan Program Anggaran Besar

Di samping badai dari luar negeri, Ibrahim menggarisbawahi bahwa kondisi fiskal dalam negeri turut menghadirkan tantangan tersendiri. Pelaksanaan sejumlah program pemerintah yang membutuhkan suntikan dana jumbo, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, berpotensi memengaruhi persepsi pasar jika tak diimbangi dengan tata kelola fiskal yang disiplin.

“Sehingga kekuatan fiskal dalam negeri ini mengalami sedikit permasalahan dan ini berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah,” pungkas Ibrahim.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang