Samsung kembali menjadi produsen pertama yang memperkenalkan inovasi terbaru di pasar smartphone lipat melalui Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Fold 8 Ultra. Kedua perangkat hadir dengan desain lebih tipis, layar yang lebih lebar, serta berbagai peningkatan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Namun di balik peluncuran tersebut, muncul ironi yang menarik. Sejumlah analis menilai Galaxy Z Fold 8 justru berpotensi menjadi “iklan gratis” bagi Apple yang diperkirakan akan memperkenalkan iPhone Fold dalam waktu dekat.
Sudut pandang ini diangkat Gizmodo, yang menyebut Samsung berhasil memvalidasi desain baru smartphone lipat bergaya “book-style” dengan rasio layar lebih lebar—format yang selama ini dirumorkan akan digunakan Apple pada foldable pertamanya.
Samsung Mengubah Formula Foldable
Selama bertahun-tahun, salah satu kritik terhadap Galaxy Fold adalah layar depan yang terlalu sempit sehingga terasa kurang nyaman digunakan seperti smartphone biasa.
Galaxy Z Fold 8 mencoba menjawab kritik tersebut lewat desain yang lebih pendek dan lebar. Samsung menggunakan rasio layar luar 10:16 dan layar utama 4:3 sehingga pengalaman mengetik, menonton video, bermain gim, hingga membaca dokumen menjadi lebih natural.
Perubahan ini juga membuat efek “letterbox” atau bilah hitam saat menonton video menjadi lebih kecil.
Inilah bentuk smartphone lipat yang sejak lama diharapkan banyak pengguna.
Apple Diperkirakan Menggunakan Konsep Serupa
Menariknya, berbagai laporan industri selama beberapa bulan terakhir menunjukkan iPhone Fold pertama juga akan mengadopsi desain serupa.
Beberapa dummy unit yang beredar memperlihatkan perangkat dengan dimensi mendekati iPad mini ketika dibuka. Samsung Display bahkan disebut-sebut menjadi pemasok tunggal panel OLED lipat untuk Apple.
Jika laporan tersebut benar, Samsung sebenarnya telah membuka jalan bagi Apple dengan memperkenalkan desain yang kemungkinan besar akan digunakan kompetitornya.
Dengan kata lain, Samsung melakukan edukasi pasar lebih dulu, sementara Apple berpotensi memetik manfaat ketika produknya resmi diluncurkan.
AI Bukan Lagi Pembeda
Samsung juga menjadikan Galaxy AI sebagai nilai jual utama.
Berbagai fitur seperti My FanCam, Dual Recording, hingga kemampuan produktivitas berbasis AI menjadi bagian penting dari Galaxy Z Fold 8.
Namun kondisi pasar smartphone premium saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Apple telah menghadirkan Apple Intelligence, Google mengembangkan Gemini, sementara produsen asal China juga mulai menyematkan AI generatif di perangkat flagship mereka.
Akibatnya, AI perlahan berubah dari fitur pembeda menjadi standar baru di kelas premium.
Bagi konsumen, keputusan membeli smartphone kemungkinan akan lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman penggunaan, ekosistem, dan harga dibanding sekadar jumlah fitur AI yang tersedia.
Tantangan Samsung Justru Datang dari Apple
Samsung memang masih menjadi pemimpin pasar smartphone lipat secara global.
Namun dominasi tersebut belum tentu bertahan ketika Apple resmi masuk ke segmen yang sama.
Data Consumer Intelligence Research Partners (CIRP) menunjukkan loyalitas pengguna iPhone masih sangat tinggi. Sekitar 87 persen pembeli iPhone merupakan pengguna Apple yang kembali membeli perangkat dalam ekosistem yang sama, sementara perpindahan pengguna Android ke iPhone relatif stabil.
Artinya, Samsung kemungkinan tidak hanya harus bersaing dengan produsen Android lain, tetapi juga menghadapi basis pengguna Apple yang selama ini menunggu foldable pertama dari perusahaan tersebut.
Inovasi Belum Tentu Mengubah Peta Persaingan
Galaxy Z Fold 8 membawa sejumlah penyempurnaan yang memang dibutuhkan pengguna, mulai dari desain lebih ergonomis, lipatan layar yang diklaim semakin minim, hingga bodi yang lebih ringan.
Meski demikian, peningkatan tersebut masih bersifat evolusioner, bukan revolusioner.
Bagi pengguna Galaxy Fold generasi lama, pembaruan ini mungkin cukup menarik.
Namun bagi pasar yang lebih luas, Samsung masih harus membuktikan bahwa smartphone lipat memiliki nilai tambah yang cukup besar dibanding flagship konvensional—terutama ketika harga perangkat tetap berada di kisaran premium.
Ironisnya, jika Apple berhasil menghadirkan pengalaman serupa dengan dukungan ekosistem iOS yang kuat, Samsung bisa saja menjadi perusahaan yang membuka jalan, tetapi bukan yang paling banyak menikmati pertumbuhan pasar smartphone lipat.













