Cari Kerja Berujung Maut, Pemuda Palestina Tewas Ditembak di Pagar Israel

Berburu nafkah di tengah impitan konflik sering kali harus dibayar dengan harga yang teramat mahal, bahkan dengan nyawa. Tragedi kemanusiaan ini kembali menimpa seorang warga Palestina berusia 20 tahun. Pemuda nahas ini tewas diterjang peluru saat mencoba melintasi pagar pembatas Israel demi mencari pekerjaan di Yerusalem Timur, Senin (13/7/2026).

Kabar duka ini dikonfirmasi oleh badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa pemuda malang tersebut mencoba menembus pagar pembatas di area Bir Nabala. Sayangnya, harapan untuk membawa pulang sedikit uang bagi keluarga justru berakhir dengan kepulangan jenazahnya.

Hingga kini, pihak PBB tidak mengungkap siapa pelaku penembakan maupun afiliasi kelompoknya. Namun, kehilangan satu nyawa muda ini kembali memantik keprihatinan mendalam atas nasib warga sipil yang terjebak dalam pusaran konflik.

“Warga Palestina harus senantiasa dilindungi. Dalam konteks penegakan hukum, penggunaan kekuatan mematikan harus menjadi pilihan paling terakhir,” tegas OCHA dalam pernyataan resminya.

Sulitnya Mencari Sesuap Nasi Sejak Izin Kerja Dicabut

Bagi pemuda tersebut dan ribuan warga Palestina lainnya, nekat menyeberangi pagar beton berliku itu bukan untuk memicu keributan. Mereka hanya tidak punya pilihan lain setelah pintu-pintu rezeki legal dikunci rapat.

Sejak perang kembali membara pada Oktober 2023, otoritas Israel memang memperketat gerak warga Palestina. Mereka mencabut sekaligus menangguhkan sebagian besar izin masuk ke Yerusalem Timur dan wilayah Israel. Kebijakan ini otomatis memutus mata pencaharian para pekerja harian yang menggantungkan hidupnya di sana.

Pagar pembatas yang mulai dibangun Israel sejak 2002 ini kini seolah berubah menjadi perangkap maut bagi warga yang putus asa. Berdasarkan catatan komunitas kemanusiaan PBB di wilayah pendudukan, per 6 Juni saja, sudah ada 20 warga Palestina yang tewas dan lebih dari 290 orang terluka saat mencoba melompati atau menembus pagar tersebut demi bisa menyambung hidup.

Ternak Penopang Hidup pun Terancam Mati

Penderitaan rakyat Palestina seperti tidak ada habisnya. Di Jalur Gaza, penderitaan manusia kini menjalar hingga ke hewan-hewan ternak mereka. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengungkapkan bahwa bantuan pakan ternak terakhir kali diizinkan masuk ke Gaza pada 4 Juni lalu. Setelah itu, pintu impor pakan kembali digembok rapat oleh Israel.

Dampaknya sangat nyata di pasar lokal. Sejak awal Februari, harga pakan ternak meroket hingga dua sampai tiga kali lipat. Kenaikan harga yang gila-gilaan ini langsung memukul usaha keras FAO dalam menekan angka kematian hewan ternak serta mempertahankan populasi kambing dan domba di Gaza.

Bagi warga Gaza, kambing dan domba bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan benteng pertahanan terakhir mereka untuk bertahan hidup dari ancaman kelaparan ekstrem.

“Untuk melindungi hewan ternak dan memperkuat ketahanan pangan warga setempat, badan-badan kemanusiaan mendesak agar impor pakan ternak segera dibuka kembali,” imbau OCHA.

PBB juga meminta agar sektor swasta dan komunitas bantuan diberikan akses penuh tanpa hambatan untuk menyalurkan pasokan pertanian penting ini. Sebab, jika hewan-hewan ini mati kelaparan, maka masa depan pangan warga di dalam Gaza akan semakin gelap.