Menteri Sosial Saifullah Yusuf membuka Seminar Nasional bertema Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana di Universitas Nasional, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026). (Foto: Inilah.com/Vonita)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menilai pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai Pahlawan Nasional layak didukung. Menurutnya, STA memiliki kontribusi tidak hanya di bidang sastra, tetapi juga dalam membangun bahasa, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia.
Hal itu disampaikan Gus Ipul saat membuka Seminar Nasional bertema Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana di Universitas Nasional, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).
Gus Ipul mengapresiasi penyelenggaraan seminar yang dinilainya menjadi bagian dari ikhtiar akademik untuk mengkaji jejak perjuangan STA sekaligus mendukung usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional.
“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Universitas Nasional, khususnya Fakultas Bahasa dan Sastra, yang telah mengisi forum ini sebagai ikhtiar akademik dan kebangsaan untuk menelaah kontribusi Sutan Takdir Alisjahbana, sekaligus mendukung pengusulan sebagai Pahlawan Nasional,” kata Gus Ipul.
Gus Ipul menyampaikan pembahasan mengenai STA tidak cukup hanya sebatas mengenang nama atau karya-karyanya. Ia justru menilai ada hal yang lebih penting mengenai gagasan besar yang diperjuangkan tokoh tersebut dan relevansinya bagi Indonesia saat ini.
“STA dikenal sebagai sastrawan, ahli bahasa, pemikir kebudayaan, pendidik, dan pendiri lembaga pendidikan. Namun bila seluruh perjalanan hidupnya dilihat sebagai satu kesatuan, kita menemukan satu hal yang jauh lebih besar, ia ikut membangun cara bangsa Indonesia berpikir,” ujarnya.
Gus Ipul menyebut STA berperan dalam mempersiapkan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, bahasa pendidikan, sekaligus bahasa ilmu pengetahuan.
Tak hanya itu, karya-karya sastra STA juga mengangkat isu ketimpangan sosial, kebebasan, dan kedudukan perempuan ke ruang kesadaran publik, serta berkontribusi dalam mendirikan lembaga pendidikan, termasuk Universitas Nasional.
Ia menyatakan perjuangan STA menunjukkan kepahlawanan tidak selalu diwujudkan melalui perjuangan fisik di medan perang.
“Karena itu, ketika kita membicarakan kepahlawanan STA, kita sedang membicarakan bentuk pahlawan yang tidak selalu berlangsung di medan pertempuran. Ada perjuangan dengan senjata, ada pula perjuangan dengan pena, buku, ruang kelas, dan keberanian menyampaikan gagasan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Ipul menuturkan perjuangan STA mengisi kemerdekaan melalui bahasa, pendidikan, dan kebudayaan sama pentingnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan. Ia menilai salah satu warisan terbesar STA adalah perjuangannya mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern yang mampu menjadi sarana pendidikan, pemerintahan, hingga ilmu pengetahuan.
“Hari ini kita menggunakan bahasa Indonesia di sekolah, pemerintahan, media, dan kehidupan sehari-hari, sehingga kadang lupa bahwa bahasa itu melalui perjuangan panjang untuk dirumuskan, dikembangkan, dan diperkaya agar mampu menampung kebutuhan bangsa modern. STA adalah salah satu yang memberikan tenaga dan pikirannya dalam proses tersebut,” tuturnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









