Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pekan ini, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) kembali memasuki era gelap lantaran terus melemah hingga kembali mendekati Rp18.000/US$. Seperti pada 4 Juni lalu, mata uang Garuda ‘ngedrop’ ke level Rp18.015.
Pada sesi perdagangan Kamis pagi (25/6/2026), rupiah melemah 0,12 persen ke level Rp17.965/US$. Atau sejengkal lagi tembus level psikologis Rp18.000/US$.
Pelemahan ini, dipicu beberapa faktor, salah satunya adalah kebijakan bank sentral AS (The Fed) mengerek suku bunga atau Fed Fund Rate (FFR). Setidaknya dua kali hingga akhir 2025, sebesar 50 basis poin (bps).
Pasar menilai, keputusan The Fed menaikkan FFR untuk mengendalikan inflasi domestik kembali ke jalur target. Hanya saja, penguatan dolar AS terjadi tidak merata untuk mata uang di kawasan Asia.
Di Malaysia, ringgit justru terbang 0,52 persen tertopang data pertumbuhan investasi asing langsung sebesar 42,1 persen. Demikian pula peso Filipina, yen Jepang, baht Thailand, dolar Singapura ikutan nangkring di zona hijau. Sementara won Korea Selatan, dolar Taiwan senasib dengan rupiah, mengalami pelemahan.
Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi menyebut, tekanan terhadap rupiah merupakan kombinasi dari sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, pasar masih mencermati perkembangan hubungan AS dengan Iran.
Washington dilaporkan memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Teheran pasca pembicaraan perdamaian awal, yang membuka ruang bagi Iran untuk meningkatkan penjualan minyak.
Selain itu, kata Ibrahim, pasar juga menyoroti arah kebijakan moneter bank sentral AS. Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menguat setelah pertemuan kebijakan terakhir dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang cenderung hawkish.
Sementara sentimen internal, lanjutnya, terkait keputusan MSCI yang menunda evaluasi aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026, harusnya memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.
Perpanjangan itu, lanjutnya, dilakukan setelah muncul kekhawatiran terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada awal tahun. Sebelumnya, MSCI sempat membekukan perubahan pada indeks saham Indonesia karena mempertimbangkan aspek investability dan kemudahan akses bagi investor asing.
“Perpanjangan masa evaluasi ini memberi waktu bagi regulator dan pelaku pasar untuk melakukan perbaikan yang diperlukan. Hasil peninjauan MSCI akan menjadi perhatian penting investor dalam beberapa bulan ke depan,” jelasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












