Catat Ini: Menperin Agus Genjot Ekspor Manufaktur Jadi 30 Persen

Clara Medium.jpeg

Selasa, 9 Juni 2026 – 11:32 WIB

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: ANTARA/HO-Kemenperin).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: ANTARA/HO-Kemenperin).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketika perekonomian global masih diselimuti ketidakpastian, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita sesumbar akan mengerek naik ekspor industri manufaktur dari 20 persen. menjadi 30 persen. Namun, kebutuhan dalam negeri tetap diprioritaskan. 

Menperin Agus di Jakarta, Selasa (9/6/2026), menjelaskan, penjualan produk manufaktur nasional, saat ini, masih didominasi pasar domestik. Sebanyak 80 persen dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sedangkan 20 persen sisanya ditujukan untuk ekspor.

Ke depan, kata politikus Partai Golkar itu, Kemenperin menargetkan perubahan komposisi menjadi 70 persen untuk pasar domestik dan 30 persen untuk pasar ekspor.

“Pasar domestik tetap menjadi kekuatan utama industri nasional. Namun ke depan, kita perlu memperkuat industri yang berorientasi ekspor agar penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global semakin besar,” kata Menperin Agus.

“Targetnya, komposisi yang saat ini sekitar 20 persen ekspor dan 80 persen domestik dapat meningkat menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik, tanpa mengurangi kemampuan industri memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri,” imbuhnya.

Menurut dia, penguatan industri manufaktur berorientasi ekspor menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan ketahanan sektor industri sekaligus memperluas akses produk Indonesia ke pasar global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen. Pada periode tersebut, sektor industri pengolahan tumbuh 5,04 persen dan menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Kontribusi riilnya mencapai 19,07 persen atau setara Rp1.179,62 triliun.

Dari sisi investasi, industri pengolahan mencatat realisasi investasi sebesar Rp182,04 triliun atau setara 36,49 persen dari total investasi nasional.

Sementara itu, nilai ekspor produk industri pengolahan pada periode Januari-April 2026 mencapai 75,57 miliar dolar AS atau berkontribusi 82,01 persen terhadap total ekspor nasional.

Menperin Agus menegaskan, peningkatan ekspor manufaktur harus berjalan seiring dengan upaya menjaga pasar domestik yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan industri nasional.

Oleh karena itu, Kemenperin terus memperkuat daya saing industri melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor secara terukur, serta penguatan instrumen perlindungan industri dalam negeri.

Selain itu, Kemenperin juga mendorong implementasi skema Local Currency Settlement (LCS) sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan industri nasional di tengah fluktuasi nilai tukar.

“Pemanfaatan Local Currency Settlement sebenarnya telah kami rekomendasikan sejak tahun 2023, jauh sebelum terjadi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah seperti yang kita hadapi saat ini. Perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional menjadi instrumen penting untuk mengurangi risiko nilai tukar sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi bagi pelaku industri nasional,” ujar Menperin Agus.

Lebih lanjut, dia optimistis target kinerja program dan anggaran Kementerian Perindustrian pada 2026 dapat tercapai melalui pelaksanaan berbagai program prioritas.

Program tersebut meliputi hilirisasi industri, penguatan industri kecil dan menengah (IKM), pembangunan sumber daya manusia industri, transformasi industri hijau, serta peningkatan produktivitas melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang