Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika memberi keterangan ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (Foto: Antara/Putu Indah Savitri)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa swasembada energi dan hilirisasi menjadi dua pilar strategis dalam memperkokoh ketahanan ekonomi nasional. Langkah ini dinilai vital agar Indonesia tidak rapuh di tengah dinamika global.
Sinyal kuat tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, dalam Sidang Pleno XI Kongres KUII ke-8 di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Erani menekankan, kemandirian di sektor energi sejatinya memiliki bobot yang sama krusialnya dengan ketahanan pangan maupun air bagi sebuah negara.
“Yang pertama adalah terkait dengan kemandirian energi. Ini sama pentingnya dengan kemandirian pangan, sama pentingnya dengan kemandirian air, sama pentingnya dengan ketahanan dari perekonomian kita,” tegas Erani.
Untuk menopang hal tersebut, pemerintah kini tengah meramu kebijakan terintegrasi dari hulu ke hilir. Murni dimulai dari tahap eksploitasi sumber daya alam hingga pengolahan di ranah industri. Arahan ini menjadi fokus utama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi.
Tembus Medan Berat Demi Patok Last Mile
Guna menerjemahkan visi besar swasembada dan hilirisasi tersebut, Erani membeberkan empat prioritas utama yang kini tengah digarap kementeriannya.
Prioritas pertama adalah mendongkrak pasokan energi nasional secara masif. Langkah ini menjadi fondasi paling krusial untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus menggerakkan roda dunia usaha.
“Ini kebutuhan paling mendasar yang tidak bisa ditawar,” ujar Erani.
Selanjutnya, prioritas kedua berfokus pada pemerataan akses energi hingga ke pelosok negeri. Erani tak menampik bahwa membawa terang energi ke titik terluar Indonesia bukanlah perkara mudah.
“Kami sekarang sedang berjuang untuk memastikan bahwa seluruh rumah tangga di Tanah Air terjangkau. Kita sedang menyelesaikan untuk last mile-nya. Kilometer-kilometer terakhir yang itu sangat sulit, sangat tersebar, tantangan dari sisi alamnya berat, termasuk juga tentunya keekonomiannya,” terangnya.
Pangkas Impor Lewat EBT dan Hilirisasi
Masuk ke prioritas ketiga, Kementerian ESDM memacu percepatan transisi energi menuju energi baru dan terbarukan (EBT). Langkah ini diambil bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan solusi konkret atas tingginya beban impor energi saat ini.
Padahal, Indonesia menyimpan potensi EBT yang melimpah ruah dan belum tergarap optimal. “Utama yang pertama adalah kita masih melakukan impor dari sisi penyediaan energi dalam negeri. Padahal, di dalam negeri sendiri mempunyai potensi yang demikian luas,” tambahnya.
Adapun prioritas keempat meletakkan hilirisasi sebagai instrumen pendukung (supporting tools). Hilirisasi dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga pasokan energi, memperluas akses layanan, menggerakkan industri nasional, sekaligus memastikan transisi energi berjalan secara berkelanjutan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










