Pengamat Pendidikan Sentil Kampus: Lulus Cepat tapi tak Siap Hadapi Dunia Nyata

Diana Medium.jpeg

Senin, 18 Mei 2026 – 16:41 WIB

Sejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Senin (27/4/2026). (Foto: Antara)

Sejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) di Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Senin (27/4/2026). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Semarang, Edi Subkhan, menilai perguruan tinggi di Indonesia saat ini tengah terjebak dalam rutinitas sistemik yang perlahan menggerus fungsi utama kampus sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan dan pembentukan sumber daya manusia berkualitas.

Menurut Edi, kampus kini lebih banyak disibukkan dengan target administratif, akreditasi, hingga tuntutan ekonomi institusi dibanding memastikan mahasiswa benar-benar memiliki kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

“Tiap tahun menerima mahasiswa baru, menghitung berapa banyak mahasiswa diterima, berapa kelas dibuka, yang artinya itu adalah income untuk kampus, karena kampus diberi beban untuk hidup mandiri, terutama kampus PTN-BH,” kata Edi kepada Inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, sistem pendidikan tinggi saat ini membuat kampus fokus pada efisiensi dan pencapaian indikator formal. Mahasiswa didorong lulus cepat karena menjadi bagian dari penilaian akreditasi dan prestasi institusi.

“Mahasiswa diminta lulus cepat karena masuk data prestasi mahasiswa dan dihitung dalam akreditasi jurusan. Begitu terus tiap tahun,” ujarnya.

Kampus Dinilai Terlalu Fokus Ranking dan Publikasi

Edi mengatakan kampus juga dibebani berbagai target lain seperti lomba antarperguruan tinggi, perebutan hibah pemerintah, target world class university, hingga kewajiban publikasi dosen di jurnal internasional terindeks Scopus atau Web of Science (WoS).

Di sisi lain, dosen menghadapi beban kerja yang dinilai berlebihan. Mulai dari jumlah SKS mengajar yang tinggi, pekerjaan administrasi, hingga kesejahteraan yang belum sebanding dengan beban kerja.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat proses pembelajaran cenderung berjalan sebagai rutinitas formal semata. Dosen fokus mengajar, memberi tugas, dan memberi nilai, sementara kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah nyata kerap terabaikan.

“Soal apakah mahasiswa bisa memecahkan masalah riil di lapangan atau tidak, itu soal nanti. Yang penting lulus cepat,” tuturnya.

Meski demikian, Edi mengakui masih ada dosen dan kampus yang serius membangun kemampuan mahasiswa agar siap menghadapi dunia kerja dan persoalan sosial. Namun upaya itu dilakukan di tengah kondisi sistem pendidikan tinggi yang belum ideal.

Soroti Bahaya Ketergantungan Mahasiswa pada ChatGPT

Edi juga menyoroti penggunaan teknologi kecerdasan buatan generatif atau GenAI seperti OpenAI ChatGPT dan Gemini dalam dunia pendidikan tinggi.

Menurutnya, kemajuan teknologi memang membantu proses belajar, tetapi juga memunculkan risiko baru jika sistem perkuliahan dan asesmen tidak dibenahi secara serius.

“Bisa saja mahasiswa-mahasiswa sekarang nilainya tinggi karena tugasnya dibuatkan oleh GenAI seperti ChatGPT, tapi sebenarnya otak mereka kosong. Ini yang berbahaya,” katanya.

Ia menilai kampus dan dosen memiliki pekerjaan rumah besar untuk memastikan mahasiswa benar-benar menguasai dasar keilmuan, memiliki nalar berpikir yang kuat, serta kemampuan kritis sebelum masuk ke aspek praktik dan kompetensi teknis.

Menurut Edi, jika pendidikan tinggi hanya fokus pada keterampilan teknis tanpa fondasi ilmu yang kuat, lulusan kampus hanya akan menjadi tenaga kerja teknis biasa dan sulit bersaing dalam era knowledge economy menuju Indonesia Emas 2045.

Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi menata ulang kurikulum agar mahasiswa memperoleh lebih banyak pengalaman riil di lapangan. Salah satu konsep yang dinilai masih relevan untuk diteruskan adalah kebijakan pembelajaran berbasis pengalaman lapangan pada semester akhir yang diperkenalkan pada era Menteri Pendidikan sebelumnya, Nadiem Makarim.

“Saya kira salah satu warisan Nadiem yang perlu dilanjutkan adalah memberi kesempatan mahasiswa untuk punya lebih banyak pengalaman riil pada dua atau tiga semester akhir perkuliahan mereka,” ujar Edi.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang