Ilustrasi Hantavirus (Foto: Adobe Stock)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Praktisi kesehatan masyarakat lulusan Universitas Indonesia, Ngabila Salama, menjelaskan sejumlah hal yang perlu dipahami masyarakat terkait hantavirus atau virus hanta yang belakangan menjadi perhatian.
Belum lama ini, temuan empat kasus di DKI Jakarta sempat memicu kecemasan. Meski begitu, hantavirus sejatinya dapat dicegah melalui kebiasaan hidup bersih dan pengendalian lingkungan.
Ngabila mengatakan hantavirus memang menjadi sorotan usai muncul laporan kasus suspek dan konfirmasi di Jakarta serta sejumlah provinsi lain di Indonesia.
Namun, ia mengingatkan masyarakat tidak perlu panik berlebihan dan sebaiknya fokus memahami pola penularan serta langkah pencegahan.
“Yang paling penting, sebagian besar hantavirus tidak mudah menular dari manusia ke manusia,” kata Ngabila dalam keterangannya kepada Inilah.com, dikutip Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan penularan utama tetap berasal dari lingkungan atau habitat tikus sebagai pembawa virus, seperti melalui urine, kotoran, air liur, maupun debu yang terkontaminasi dan kemudian terhirup manusia.
Menurut Ngabila, risiko penularan meningkat saat seseorang membersihkan gudang lama yang penuh kotoran tikus, menyapu debu bekas sarang tikus, tinggal di lingkungan dengan infestasi tikus tinggi, atau melakukan kontak langsung dengan tikus mati maupun terinfeksi.
Terkait penularan antarmanusia, Ngabila menegaskan kasusnya hingga kini sangat terbatas. Ia menyebut hanya beberapa jenis tertentu seperti Andes virus di Amerika Selatan yang diduga dapat menular antarmanusia.
Sementara jenis yang dominan ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus dan sejauh ini belum terbukti menular luas antarmanusia seperti COVID-19.
“Jadi masyarakat tidak perlu takut berlebihan terhadap kontak sosial biasa,” tuturnya.
Ngabila juga mengingatkan gejala awal hantavirus kerap menyerupai flu, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, tubuh terasa sangat lemas, mual muntah, hingga nyeri perut. Pada kasus berat, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan ginjal, perdarahan, sesak napas berat, bahkan gagal napas atau gagal multiorgan.
Untuk mencegah sakit dan komplikasi, ia menyarankan masyarakat mengendalikan populasi tikus di rumah maupun lingkungan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menutup lubang atau celah yang berpotensi menjadi akses masuk tikus.
Ngabila juga mengingatkan agar masyarakat tidak membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu kering karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara. Area yang terkontaminasi sebaiknya dibasahi terlebih dahulu menggunakan disinfektan atau cairan pembersih sebelum dibersihkan.
Selain itu, penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang, loteng, ruangan lama, atau area berdebu juga dinilai penting. Kebiasaan mencuci tangan setelah membersihkan lingkungan dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami demam tinggi usai terpapar lingkungan dengan banyak tikus juga perlu dilakukan.
Ia menambahkan ada sejumlah kelompok yang perlu ekstra waspada, di antaranya petugas kebersihan, pekerja gudang, orang yang membersihkan bangunan lama, warga yang tinggal di lingkungan padat tikus, serta individu dengan daya tahan tubuh rendah.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













