Heri Santoso, penerima manfaat Program Jantara (Jaringan Tani Ternak) di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Inilah.com/Harris)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di kaki lereng Gunung Telomoyo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng) kandang domba sederhana menjadi sumber penghidupan bagi Heri Santoso (35).
Dalam setahun terakhir, kandang tersebut bukan lagi sekadar tempat beternak, melainkan menjadi sumber harapan baru setelah Heri terpilih sebagai salah satu penerima manfaat Program Jantara (Jaringan Tani Ternak) yang diinisiasi lembaga amil zakat nasional, Dompet Dhuafa.
Heri yang juga Ketua Pengelola Jantara Kecamatan Getasan, menjadi satu dari lima peternak yang mendapat amanah mengelola total 50 domba dari Dompet Dhuafa di wilayahnya. Dari jumlah tersebut, pria yang menekuni profesi peternak domba sejak 2024 itu dipercaya merawat 20 ekor.
“Alhamdulillah sih memang dari awal sempat kewalahan juga, karena kami hanya pemelihara domba biasa. Lalu diberi amanah oleh Dompet Dhuafa begitu banyak, kami dibekali juga dari Dompet Dhuafa cara mengobati cara merawat, sampe saat ini,” kata Heri saat ditemui awak media di Dusun Dangklik, Desa Tolokan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Selasa (12/5/2026).
Heri menyebut seluruh domba yang saat ini dikelolanya dalam kondisi siap untuk dikurbankan pada momen Hari Raya Idul Adha 1447 H mendatang.
“Semua siap dikurban. Tahun ini kalau yang di Kecamatan Getasan, dari Dompet Dhuafa sekitar 50. Ini rata-rata satu tahun semua,” ujarnya.
Dalam proses pemeliharaan, Heri menjelaskan program penggemukan domba ditargetkan berlangsung selama sekitar empat bulan. Selama periode tersebut, bobot hewan ditargetkan mengalami kenaikan secara bertahap sesuai standar yang ditetapkan Dompet Dhuafa.
“Pemeliharaan penggemukan di sini itu ditarget sekitar empat bulan. Rata-rata naik sekitar 3-4 satu bulan. Dan target dari Dompet Dhuafa itu naik satu ons,” katanya.
Sebelum hadirnya Program Jantara, Heri mengaku peternak kerap menghadapi persoalan harga jual kambing yang justru cenderung turun saat mendekati Idul Adha. Kondisi itu membuat peternak kesulitan mendapatkan keuntungan meski telah merawat ternak berukuran besar.
Apalagi dia juga menyoroti kehadiran tengkulak yang selama ini jadi momok menakutkan bagi peternak di Kacematan Getasan.
“Sebelum ada program Jantara dari Dompet Dhuafa itu harga kambing selalu turun. Di saat hari raya kurban itu menurun. Saat itu, kami pribadi pengalaman punya domba besar tapi harganya murah, makanya kami diberi amanah dan sistem kontrak dengan DD,” tuturnya.
Menurut Heri, skema kemitraan yang dihadirkan Dompet Dhuafa memberi kepastian pasar sekaligus membantu peternak lebih tenang dalam menjalankan usaha ternak. Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Apalagi dalam program ini, Heri dan peternak lain juga mendapat pembekalan mengenai perawatan hewan kurban, mulai dari penggemukan, manajemen pakan, hingga penanganan kesehatan domba. Dalam prosesnya, Dompet Dhuafa turut melibatkan dokter hewan untuk memberikan edukasi kepada para peternak.
“Harapan saya dan teman-teman program jantara bisa bermanfaat untuk semua orang, cukup membantu sekali. Saya juga sangat bersyukur diberi amanah oleh DD, semoga amanah juga untuk semua,” ucapnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













