Di tengah puing-puing konflik yang belum usai, Jalur Gaza kembali menghadirkan kisah yang menggugah, saat ratusan pasangan Palestina melangsungkan pernikahan secara serentak dalam sebuah acara massal yang penuh makna.
Bukan sekadar perayaan cinta, momen tersebut menjadi simbol ketahanan hidup di tengah genosida dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Ribuan warga memadati kota Deir al-Balah, tengah Jalur Gaza, pada Jumat (25/4/2026) untuk menyaksikan 300 pasangan mengucapkan ijab qabul dalam satu waktu, menjadi pernikahan massal terbesar yang pernah digelar di wilayah tersebut.
Acara itu menjadi oase kebahagiaan yang langka di tengah realitas pahit yang setiap hari menyelimuti Gaza.
Diinisiasi Bantuan Kemanusiaan
Pernikahan massal itu terselenggara berkat dukungan Khalifa bin Zayed Al Nahyan Foundation, sebagai bagian dari inisiatif kemanusiaan Uni Emirat Arab (UEA) bertajuk Operation Gallant Knight 3.
Program tersebut bertujuan membantu warga Palestina, khususnya generasi muda, yang terdampak langsung oleh perang dan pengungsian.
Sebanyak hampir 2.000 calon pasangan mengikuti proses seleksi melalui undian.
Dari jumlah tersebut, 300 pasangan terpilih untuk mengikuti prosesi pernikahan dengan fasilitas lengkap, mulai dari busana hingga kebutuhan awal rumah tangga.
Harapan untuk Perubahan
Salah satu pengantin perempuan, Thekra al-Masri, mengungkapkan perasaannya atas momen tersebut.
Berbicara kepada media internasional, ia menilai perayaan tersebut membawa secercah harapan baru bagi warga Gaza yang selama ini hidup dalam ketidakpastian.
Ia menyebut momen tersebut sebagai “harapan untuk perubahan”.
Ungkapan singkat itu menggambarkan betapa besar arti pernikahan ini bagi para pengungsi yang kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan.
Tradisi yang Tetap Hidup
Meski berada dalam situasi darurat, prosesi pernikahan tetap berlangsung dengan nuansa tradisi yang kuat.
Para pengantin perempuan mengenakan gaun putih khas Palestina (thawb) dengan sulaman tatreez berwarna cerah. Sementara para mempelai pria mengenakan setelan jas lengkap dengan keffiyeh yang melambangkan identitas nasional Palestina.
Acara diawali dengan arak-arakan pasangan, pembacaan ayat suci Alquran, pengumuman resmi pernikahan, hingga pengumandangan lagu kebangsaan Palestina dan Uni Emirat Arab.
Ribuan warga yang hadir turut memeriahkan suasana dengan mengibarkan bendera dan menari dabke, tarian tradisional khas Negeri Syam.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Di balik kebahagiaan itu, situasi Gaza tetap berada dalam bayang-bayang kekerasan. Gencatan senjata yang berlangsung sejak Oktober lalu masih sangat rapuh dan kerap dilanggar.
Genosida di Gaza dipicu oleh aksi gerakan perlawanan Palestina yang dikomandoi Hamas ke wilayah selatan jajahan rezim Zionis Israel pada 7 Oktober 2023.
Rezim penjajah Zionis Israel kemudian melancarkan operasi militer besar-besaran dan genosida yang telah menewaskan lebih dari 72.560 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan setempat.
Bahkan pada 23 April ini, sedikitnya delapan warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, dilaporkan tewas akibat dua serangan Zionis Israel. Pihak Hamas mengecam keras kejadian itu dan menyebutnya sebagai “pembantaian mengerikan”, serta menuding Zionis Israel merusak upaya gencatan senjata.
Momen Langka di Tengah Duka
Pernikahan massal itu juga dihadiri sekitar 20.000 orang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat dan perwakilan organisasi internasional.
Kehadiran mereka menjadi bukti di tengah kehancuran, semangat kolektif masyarakat Gaza untuk tetap hidup tidak pernah padam.
Ini bukan kali pertama acara serupa digelar. Pada Desember tahun lalu, 54 pasangan juga menikah dalam program yang sama. Namun, skala kali ini jauh lebih besar, menunjukkan meningkatnya kebutuhan sekaligus harapan masyarakat untuk melanjutkan kehidupan.
Meski demikian, serangan militer penjajah Zionis Israel masih terus terjadi di berbagai wilayah seperti Gaza City, Nuseirat, Maghazi, Rafah, dan Khan Younis. Bahkan pada hari yang sama dengan pernikahan, sedikitnya 13 warga Palestina kembali menjadi korban.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 811 warga Palestina dilaporkan tewas, sementara akses bantuan kemanusiaan masih terus dibatasi.
Cinta yang Bertahan
Di tengah genosida dan kehancuran, pernikahan massal tersebut menjadi simbol kehidupan tidak sepenuhnya bisa dihentikan oleh perang.
Cinta, dalam bentuknya yang paling sederhana, justru menjadi kekuatan yang menjaga harapan tetap hidup.
Ketika dunia menyaksikan Gaza melalui angka korban dan statistik kehancuran, 300 pasangan ini menghadirkan narasi berbeda, tentang keberanian untuk memulai, bertahan, dan percaya bahwa masa depan masih mungkin dapat diperjuangkan.









