Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi mengukir sejarah baru dalam perlombaan antariksa modern. Pada Rabu (1/4/2026), NASA sukses meluncurkan misi legendaris Artemis II dari Florida, menandai penerbangan lintas (flyby) berawak pertama ke Bulan dalam lebih dari 50 tahun terakhir.
Menggunakan monster roket Space Launch System (SLS) yang menggendong wahana antariksa Orion di puncaknya, peluncuran dilakukan dari landasan historis Kennedy Space Center pada pukul 18.35 waktu setempat atau Kamis (2/4/2026) pukul 06.35 WIB. Keberhasilan ini mengawali petualangan spektakuler selama 10 hari mengelilingi satelit alami Bumi tersebut.
Misi ini digawangi oleh kuartet astronaut tangguh: Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch dari NASA, serta Jeremy Hansen yang mewakili Badan Antariksa Kanada (Canadian Space Agency).

Drama 10 Menit Menuju Orbit
Prosesi peluncuran sempat diwarnai ketegangan saat hitung mundur dihentikan mendadak pada sisa waktu 10 menit (T-10). Beruntung, kendala teknis dapat diatasi dengan cepat sehingga hitung mundur bisa dilanjutkan beberapa menit kemudian hingga asap roket membubung ke langit.
Sekitar delapan menit pasca-lepas landas, NASA mengonfirmasi mesin utama tahap inti SLS berhasil dimatikan. Wahana Orion pun sukses memisahkan diri dari tahap propulsi kriogenik sementara, menandai tuntasnya fase dorongan utama pertama dengan mulus.
Operasi berlanjut 24 menit kemudian saat sayap panel surya Orion terkembang sempurna. Mengandalkan sekitar 15.000 sel surya per sayap untuk menyerap energi matahari, Orion langsung beralih dari mode peluncuran ke operasi penerbangan penuh di bawah pengawasan ketat para insinyur di Bumi.
Tak lama berselang, pada menit ke-49, tahap atas roket SLS menyala kembali guna menempatkan Orion ke orbit elips. Manuver pembakaran kedua diproyeksikan bakal mendorong Orion melesat ke orbit Bumi tinggi sejauh 73.600 kilometer, sebelum akhirnya melaju mandiri membelah ruang hampa.
Membidik Sisi Jauh Bulan
Berdasarkan jadwal yang dirilis NASA, momen puncak berupa penerbangan lintas Bulan akan dieksekusi selama beberapa jam pada tanggal 6 April mendatang. Pada fase krusial ini, para astronaut bertugas memotret dan mengamati langsung lanskap permukaan Bulan, termasuk wilayah sisi jauh (far side) yang selama ini sangat jarang dijamah mata manusia.
Tak sekadar tamasya kosmik, kru Artemis II juga diwajibkan melakukan serangkaian eksperimen dan penelitian mendalam terkait kesehatan manusia di luar angkasa. Usai menuntaskan misi di orbit Bulan, kapsul Orion akan meluncur balik ke Bumi dengan skenario pendaratan di Samudra Pasifik.
“Artemis II merupakan penerbangan uji coba, dan uji coba ini baru saja dimulai. Tim telah memberikan apa yang dibutuhkan awak guna membuktikan kehebatan wahana ini,” tegas Associate Administrator NASA, Amit Kshatriya.
Langkah berani ini bukan sekadar pamer teknologi. Sebagai misi berawak pertama dalam program Artemis, penerbangan ini menjadi batu ujian krusial bagi sistem penunjang kehidupan manusia di luar angkasa, sekaligus pembuka jalan bagi koloni manusia masa depan di Bulan serta batu loncatan menuju Mars.













