Presiden AS Donald Trump dilaporkan menggeser tujuan perang di Iran. (Foto: The Sunday Guardian)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Mayoritas warga Amerika Serikat menuntut agar konflik dengan Iran segera diakhiri, seiring meningkatnya kelelahan publik terhadap perang yang sudah memasuki bulan kedua. Hasil survei menunjukkan dukungan kuat masyarakat untuk percepatan penghentian operasi militer, meski tujuan strategis belum sepenuhnya tercapai.
Survei Reuters dan Ipsos mencatat sekitar 66 persen responden mendukung percepatan akhir perang. Sementara itu, survei Economist/YouGov menunjukkan 59 persen menolak perang secara keseluruhan, dengan hanya 28 persen yang menyatakan dukungan.
Hasil serupa terlihat dalam jajak pendapat AP-NORC, di mana 60 persen menilai tindakan militer Amerika Serikat telah melampaui batas.
Penentangan publik paling kuat terkait rencana pengiriman pasukan darat ke Iran. Dalam ketiga survei tersebut, 62 hingga 76 persen responden menyatakan tidak setuju dengan langkah tersebut.
Bahkan, menurut Ipsos, 86 persen warga mengaku khawatir terhadap risiko yang dapat mengancam keselamatan personel militer jika operasi darat dilakukan. Kondisi ini mempertegas bahwa masyarakat tidak ingin keterlibatan militer lebih dalam.
Selain itu, publik juga skeptis terhadap proses diplomasi yang sedang dijalankan. Sekitar 46 persen meragukan negosiasi damai benar-benar berlangsung, sementara 59 persen menilai penyelesaian konflik dalam waktu dekat sulit tercapai.
Hanya sekitar 30 persen responden yang puas dengan penanganan konflik oleh pemerintah, menunjukkan rendahnya tingkat kepercayaan terhadap arah kebijakan saat ini.
Harga BBM Tinggi
Kelelahan publik terhadap konflik Iran juga didorong oleh faktor ekonomi. Survei terbaru menunjukkan kekhawatiran masyarakat tidak hanya soal keamanan, tetapi dampak finansial perang. Sekitar 67 persen responden AP-NORC menilai pencegahan kenaikan harga bahan bakar sebagai prioritas utama, jauh melampaui dukungan terhadap tujuan strategis seperti perubahan rezim di Iran yang hanya 33 persen.
Lonjakan harga energi, terutama bahan bakar, memberikan tekanan besar pada biaya hidup masyarakat, mulai dari transportasi hingga kebutuhan pokok. Selain itu, hampir 77 persen warga Amerika, menurut Ipsos, khawatir terhadap besarnya biaya yang harus ditanggung negara untuk operasi militer. Kekhawatiran ini berkaitan dengan potensi kenaikan pajak, inflasi, dan tekanan ekonomi domestik.
Para pengamat menilai kombinasi antara tekanan ekonomi dan kenaikan harga energi mempercepat munculnya “war fatigue” atau kelelahan perang di kalangan publik. Situasi ini mendorong masyarakat untuk meminta pemerintah mengalihkan fokus dari operasi militer ke pemulihan ekonomi.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









