Gedung BNI. (Foto: Dok: BNI).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta industri keuangan, termasuk perbankan, untuk terus memantau potensi dampak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran terhadap Indonesia.
Menanggapi hal ini, Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Okki Rushartomo, memastikan pihaknya terus mengikuti dinamika geopolitik global serta kemungkinan dampaknya pada stabilitas pasar keuangan domestik.
“Sistem keuangan domestik tetap didukung oleh fundamental yang kuat, serta koordinasi kebijakan yang baik antara otoritas moneter dan fiskal,” kata Okki kepada wartawan, Kamis (5/3/2026).
Okki menjelaskan, ketidakpastian global dapat memengaruhi sentimen pasar dan pergerakan nilai tukar. Untuk menghadapi kondisi tersebut, BNI menerapkan pengelolaan risiko secara disiplin dan terukur. Langkah ini mencakup prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, pengelolaan portofolio yang terdiversifikasi, serta pemantauan likuiditas secara berkelanjutan.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan kualitas aset tetap terjaga, serta kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan pendanaan nasabah,” ucapnya.
Selain itu, BNI juga secara aktif memantau perkembangan pasar valuta asing dan memastikan pengelolaan eksposur dilakukan secara prudent sesuai ketentuan yang berlaku. Melalui pengelolaan likuiditas yang terjaga dan penerapan manajemen risiko konsisten, Okki menegaskan, BNI optimistis tetap dapat menjaga stabilitas operasional dan mendukung aktivitas bisnis nasabah, termasuk yang memiliki kegiatan usaha lintas negara.
“BNI optimistis tetap dapat menjaga stabilitas operasional dan mendukung aktivitas bisnis nasabah, termasuk yang memiliki kegiatan usaha lintas negara,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













