Foto udara Selat Hormuz – Iran menyatakan masih mempertahankan ‘kendali’ atas wilayah darat, bawah laut, dan udara Selat Hormuz di tengah kekhawatiran akan serangan AS lanjutan ke Teheran. (Foto: ANTARA/HO-Anadolu Ajansi/pri).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pengamat Energi dan Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mencatat, kenaikan harga minyak dunia sudah terjadi sejak serangan pertama AS-Israel ke Irak pada Sabtu (28/2).
“Menurut pengamatan saya sejak serangan pertama AS-Israel ke Iran, harga minyak dunia naik. Dari sekitar 67 dolar AS, sekarang sudah 80 dolar AS per barel. Kalau eskalasi perang meluas, dipastikan naik terus. Bahkan bisa sampai 100 dolar AS per barel, bahkan lebih,” kata Fahmi, Minggu (1/3/2026).
Masalahnya, kata Fahmy, Indonesia saat ini adalah negara importir minyak yang volumenya cukup besar. Ketika Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi pusat persimpangan kapal pengangkut minyak mentah, berdampak kepada harga.
Selain itu. Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Produksi minyaknya diprediksi lebih dari 3 juta barel per hari per Januari 2026.
Selain itu, Iran memiliki garis pantai yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran vital dalam peta perdagangan minyak dunia, gas dan sejumlah komoditas dunia.
“Indonesia masih mengandalkan impor minyak sebesar 1,2 juta barel per hari. Ketika Selat Hormuz ditutup, jelas berdampak kepada harga dan beban keuangan pemerintah Indonesia,” terangnya.
Beban Berat APBN

Dengan harga 80 dolar per barel saja, menurut Fahmi, akan menambah berat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi.
“Kalau sudah diharga 80 dolar AS per barel, maka Indonesia sebagai net importir BBM, harus menanggung bengkaknya subsidi energi. Makin berat APBN kita,” imbuhnya.
Selanjutnya, kata mantan anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas itu, pemerintahan Prabowo Subianto dihadapkan kepada pilihan sulit. Menaikkan harga BBM subsidi yakni Pertalite dan Solar, bakal menambah beban rakyat. Saat ini, rakyat Indonesia tengah menghadapi tekanan berat atas daya beli.
Atau, menahan harga BBM, tidak naik. Tapi, konsekuensi cukup berat, ya itu tadi. “Subsidi energi bakal bengkak. Saya belum hitung angkanya,” ungkap Fahmy.











